Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #34

Sapu Tangan

20 September 1964

[TANJUNG]

“Apa ini?”

Butuh waktu sekian detik bagiku untuk menyadari kain sutra polos berwarna putih yang kupegang ini adalah saputangan milik Hana. Ya, benda ini baru kutemukan di dalam saku celana ketika aku sedang mencuci pakaianku. Untunglah kain ini kutemukan lebih awal, kalau tidak bisa saja saputangan ini rusak terkena lunturan pakaian lain. Aku pun segera mencelupkan saputangan itu ke dalam bak kecil dan kembali menggosok pakaian-pakaian kotorku dengan sikat baju.

Aku kembali pada saputangan yang telah terendam air sesaat setelah menjemur semua pakaianku. Mengingat jenis bahan dari saputangan ini, aku hanya menambahkan sedikit deterjen dan menguceknya dengan hati-hati, membilas sisa sabun yang masih menempel, dan menjemur kain yang setengah basah itu di dekat jendela kamar. Setelah agak kering, aku segera menyetrikanya dengan setrika arang yang sudah kusiapkan.

Hangat, itulah yang kurasakan ketika menyentuh saputangan ini. Sutra polos ini terasa halus sekali di tanganku, sehalus pipinya kala itu.

Ah! Apa yang sedang kupikirkan. Bayangan di tepi sungai waktu itu kembali menyapa. Pembuluh darah di sekitar wajahku saat itu juga melebar, membuat wajahku memerah. Kutepuk-tepuk pipiku yang kini terasa hangat, sekaligus mengaburkan bayangan itu dari dalam pikiranku.

“Tanjung,” suara Bibi Guo memanggil dari bawah. “Sampai kapan kamu mau pinjam setrikaan itu? Cepat bawa kemari. Mau Bibi pakai itu buat setrika tumpukan baju dari pabrik konfeksi.”

“Iya, Bi,” ujarku sambil membawa turun setrika arang itu.

Sudah beberapa minggu berlalu, namun saputangan itu masih ada di dalam genggamanku. Susah sekali bagiku untuk menemui waktu yang tepat untuk mengembalikan benda ini padanya. Ada kalanya aku bertemu dengannya tanpa membawa sapu tangannya. Di waktu lain, ketika saputangan itu ada di sampingku, aku malah tak bertemu dengannya selama seharian. Sekali waktu, saat ia berkunjung ke rumah untuk mengajari Xing Yuan, aku justru lupa soal itu, dan baru teringat beberapa jam setelah ia pergi. Pernah juga kucoba untuk mendatangi rumahnya, aku menemui Paman Wang dan ia hanya berkata kalau Hana sedang berada di luar. Ke mana dia sore-sore begini?

Kutatap sapu tangannya sekali lagi. Polos sekali. Cuma ada bordiran bunga di tepinya. Kalau saja ditambah sedikit hiasan di atasnya, mungkin….

Ting! Sebuah ide terbersit di dalam pikiranku. Bagaimana kalau aku saja yang menambahkan hiasan kupu-kupu di atas bordiran bunga ini? 

***

Lihat selengkapnya