Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #35

Pertemuan Rahasia

20 September 1964

Musan menginjakkan kakinya di lantai berdebu gedung tua itu. Langit-langitnya bocor, meneteskan air hujan yang menciptakan genangan di beberapa sudut. Jendela-jendela tanpa kaca terbuka lebar, membiarkan angin dingin menusuk kulit. Di tengah ruangan, Alim duduk di atas tumpukan karung goni, kakinya bersila, tangannya memegang sebatang rokok kretek yang asapnya mengepul tipis.

“Sudah lama kau menunggu?” Musan bertanya, suaranya memantul di dinding kosong.

Alim tersenyum, senyum licik. “Baru saja. Aku tahu kau akan datang.” Ia menunjuk karung goni di depannya. “Duduklah. Kita perlu bicara.”

Musan tidak bergerak. Ia berdiri, mengamati Alim seksama.

“Tidak perlu basa-basi,” Musan berujar, tatapannya menajam. “Apa maumu?”

Alim menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke udara. “Aku tahu kau punya hubungan dengan Lun Bao.”

“Dari mana kau tahu akan hal itu?”

“Bukan cuma kau satu-satunya orang yang punya intel di kawasan ini,” Alim mengembus asap rokoknya tepat ke arah Musan dan berdiri. “Aku tahu kamu masuk grup belajar Lun Bao bukan karena ingin menjadi pintar. Kau dendam bukan pada Lun Bao, bukan?”

“Yeah,” Musan mengangkat kedua bahunya. “Keep your enemies closer, bukan?”

Alim terkekeh.

“Kita punya musuh yang sama berarti,” ia mengeluarkan selaras pistol Magnum dalam karung goninya. “Apa kau sudah siap untuk memusnahkannya?”

Musan menerima pistol itu dan memandangnya dengan kagum. Ia tak pernah mengira badut satu ini akan memberikan senjata eksekusinya sendiri kepada dirinya.

“Bayangkan kau menembak peluru ini kepada Lun Bao,” ujar Alim dengan nada seorang penghipnotis. “Bayangkan kepalanya pecah di hadapanmu.”

Musan mengarahkan pistolnya ke arah Alim dan menarik pelatuknya.

DOR!

“Cibai! Kau ingin membunuhku ya?!”

Alim mengerang kesakitan, ia menutup daun telinganya yang kini bersimbah darah.

“Tes dulu,” ucap Musan jenaka. “Tak kusangka ini pistol asli. Kukira ini cuma mainan.”

“Ya jelas asli lah, konyol!” Alim menarik napas panjang. “Mana mungkin aku mau mencuri pistol mainan dari ruangan instruktur Jun.”

Lihat selengkapnya