[LUN BAO]
“Aku rasa Hana sudah tidak cinta lagi denganku.”
Duh mulai lagi nih anak. Penat sekali aku menghadapi kerbau dungu yang satu ini.
“Kenapa lagi Tanjung?”
“Hana akhir-akhir ini terlalu akrab dengan Musan. Apa jangan-jangan Hana kena guna-guna ya?”
Guna-guna bapak kau!
"Bisa jadi, Tanjung," ucapku mengiyakan. "Bisa jadi Hana kena hipnotis sama Musan. Buktinya dia mau aja diajak kencan ke Jiufen."
"Hah! Kencan?" mata Tanjung membelalak. "Kapan kejadiannya?"
"Sebulan lalu kalau nggak salah."
"Aduh! Kok kamu nggak kasih tahu aku sih!"
"Aku juga baru tahu sehari setelah mereka kencan."
"Kalau tahu begini harusnya aku juga pindah ke jurusan alam," ujar Tanjung. "Setidaknya aku bisa terus memantau Hana dari belakang."
"Sudahlah Tanjung," ucapku. "Kamu memang takdirnya di jurusan sosial. Memangnya nilai kimia dan fisikamu berapa tahun kemarin."
"Pas enam puluh sih."
"Nah, itu dia. Kamu mau tahu berapa nilai si musang brengsek itu? Seratus!"
Tanjung menatapku seperti seseorang yang baru saja kena vonis hukuman mati.
"Haha, itu pasti karena dia di sekolah malam," Tanjung menelan ludah. "Guru di sekolah malam suka kasih muridnya soal yang gampang, bukan?"
''Ya, bisa jadi," ujarku. "Tapi aku punya satu kabar buruk buat kamu."
"Apa itu?"
" Musan pindah ke sekolah pagi semester depan."