[LUN BAO]
"Jadi ini ya anak dari buku terkutuk itu?"
Aku menimang-nimang buku kecil berwarna hijau itu di hadapan Alan. Kubuka lembar-demi lembar buku tersebut. Anjing! Semuanya rumus-rumus yang rumit.
"Jangan salah! Ini mahakarya dari guru Yao, matematikawan handal yang mengubah semua perkataan Mao Zedong menjadi rumus ekspansi binomial. Sayangnya dia harus mati tertangkap KMT di Ruisui pada awal tahun ini. Rumus-rumus aljabar di buku hijau ini adalah peninggalannya."
Musan mengambil sepotong tahu dari Lùwèi(sekba) yang kami beli di pasar.
"Wah!" ucapnya sambil mengunyah. "Ini ide brilian sekali. Kamu bisa bawa buku ini di siang bolong dan nggak akan ada yang tahu. Bahkan polisi rahasia pun bingung melihatnya."
"Tanjung tahu nggak soal buku ini?" tanyaku.
"Dia nggak perlu tahu sisi gelapku, Rambo."
"Waduh, Rambo," ucap Musan dengan tengil. "Udah kayak nama anjing aja."
Robin menggonggong dan memainkan ekornya waktu Musan menyebut kata "anjing". Membuatku tak sempat membalas ejekannya.
"Sudah, sudah," Alan mencoba untuk menahan tawa. "Kita kembali ke topik utama kita. Akan kujabarkan rumus matematika ini ke dalam perkataan Mao, biar kalian mengerti."
"Untuk apa aku harus tahu perkataan iblis itu?" tanyaku jengkel.
"Rambo!" Alan menepuk pahaku. "Aku serius. Kau tidak akan bisa tahu bagaimana revolusi bisa terjadi tanpa memahami perkataan ketua Mao. Lain dari kamu, aku tak mau melihat pulau ini berada di bawah penjajahan KMT. Aku dan Paman Wong ingin Taiwan merdeka.”