Malam tahun baru ini berlangsung dengan megah. Semua orang di kapal SS President Roosevelt merayakan pergantian tahun dengan kembang api dan champagne.
“Encore, Citra!” seru seluruh penumpang di kapal pesiar itu. “Encore!”
Gadis belia itu tersenyum saat melihat para pria yang umurnya mungkin tiga kali lipat lebih tua darinya mabuk dalam kemegahan dunia.
“Jangan panggil aku Citra dong,” ujarnya manja. “Panggil aku Ge Lan!”
“Ge Lan! Ge Lan! Ge Lan!”
Citra menarik napas panjang. Diam sejenak. Semuanya hanyut dalam kesunyian.
“Ja—jambo!”
Citra mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan ketiaknya yang bersih di balik cheongsam tanpa lengannya. Ia berjalan sambil bernyanyi, mendekati seorang pria muda di dekatnya, mengambil cocktail di tangannya dan meminumnya hingga tandas.
“Ja ja jam bo, ja ja jam bo. Jajambo!”
Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Kini ia mengincar pria tua berambut pirang, menarik dasi pria itu dan memberikan kecupan hangat di tepi bibirnya.
“Me too! Me too!”
Tidak ada lagi yang peduli dengan bergantinya tahun 1965. Semua pria di kapal itu berlarian ke arah Citra untuk mendapat ciuman darinya.
“Tenang,” ujar Citra manja. “Ini untuk kalian semua.”
Ia mencium telapak tangannya dan meniupkan ciuman pada para lelaki berhidung belang itu, membuat semua pria itu jatuh ke dalam pelukan asmara.
“Baiklah, para penumpang yang terhormat,” ucap nahkoda kapal lewat speaker. “Sekarang kita akan berlabuh di dermaga Keelung.”
“Yah.”
Semua pria di ballroom kapal mendesah dengan kesal. Pertunjukan Citra harus segera diakhiri oleh pengumuman itu.