Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #39

Latihan Xindian

10 Januari 1965

Hutan Xindian masih basah kuyup setelah hujan deras semalam suntuk. Kabut tipis merayap di sela-sela batang pohon kamper, menelan suara serangga pagi dan menciptakan keheningan yang ganjil. Udara terasa berat, penuh aroma tanah basah dan daun-daun yang membusuk.

Di sebuah ceruk tersembunyi, Musan bersandar pada sebatang pohon tua. Magnum perak di genggamannya terasa dingin menempel di kulit. Di sisinya, anjing hitamnya yang bernama Robin duduk tegak lurus, waspada. Mata anjing itu tak pernah lepas dari satu-satunya orang lain di sana. Setiap kali Alim bergerak, geraman rendah merambat dari tenggorokan Robin, memperlihatkan secuil taring putih yang tajam. Bulu di tengkuk anjing itu berdiri kaku.

"Anjingmu masih saja galak padaku." Alim memaksakan tawa, mencoba terdengar santai. Ia berdiri beberapa meter jauhnya, menyusun botol-botol bir kosong di atas tunggul pohon yang lapuk.

Musan tidak menjawab. Ia mengangkat pistolnya, membidik. Satu dentuman keras merobek selubung kabut. Botol paling kiri pecah, serpihan kacanya memercik ke mana-mana. Gema tembakan bergulung-gulung di antara pepohonan sebelum akhirnya lenyap. Robin menyalak sekali, singkat dan tajam, seolah memberi persetujuan.

"Tanganmu sudah semakin stabil," komentar Alim, menyembunyikan rasa terkejutnya.

Ia mengambil gilirannya. Mengangkat pistol dengan kedua tangan, ia membidik dengan saksama. Tembakannya meleset beberapa senti, hanya menyerempet botol di sebelahnya hingga terjatuh ke tanah tanpa pecah. Alim mendecakkan lidah.

Musan maju selangkah. Tanpa banyak bicara, ia kembali membidik. DOR! Botol yang tadi jatuh kini hancur berkeping-keping. Ia meniup asap tipis yang keluar dari ujung larasnya, tatapannya dingin dan lurus ke depan.

"Bagaimana? Keren kan?"

"Ya," ucap Alim. "Tapi keren saja tidak cukup untuk membasmi Lun Bao. Kamu butuh presisi dan akurasi. Ingat, aku cuma punya sekotak peluru dan kamu sudah menghabiskan lebih dari setengahnya beberapa bulan ini."

"Ngomong-ngomong," ucap Musan sembari menaruh pistolnya di samping. "Apa yang membuatmu begitu bencinya pada Lun Bao?"

"Huh," Alim mendadak kesal. "Kamu ini pikun atau apa? Dia itu pembunuh Kapitan dan Maya! Dia juga memfitnahmu sebagai pembunuh Maya. Apa kau tidak kesal padanya?"

Musan menarik napas panjang, "Ya, aku kadang lupa kalau orang Sichuan macam kalian memang temperamental."

Wajah Alim memerah seketika, urat di lehernya menonjol. "Jaga mulutmu, Musang! Jangan bawa-bawa asal-usulku!"

Musan hanya mengangkat bahu, membiarkan kemarahannya menguap ke udara lembap hutan. Sangat mudah ditebak. Seperti anjing yang menggonggong setiap kali ekornya diinjak.

"Ya sudah, maafkan aku."

Lihat selengkapnya