Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #40

Berdansa Bersama Ular


[TANJUNG & LUN BAO]

Kami menatapi Musan dengan heran. Bukannya dia hari ini harusnya ada di gereja?

"Kamu bolos ke gereja hari ini?" tanya Hana.

"Nggak kok," ucap Musan. "Kebaktian kami diganti ke malam hari, karena…," Musan menarik napas panjang. "Karena ada jemaat dari Anaheim."

"Oh, Anaheim. That's a beautiful place. Have you guys been there?"

Kami semua menggelengkan kepala. Salah satu dari kami mulai berpikir soal Annabel Lee, sementara yang lain berpikir tentang taman bermain legendaris dunia.


 "Kedainya sudah mau tutup," ujar salah satu dari kami. "Tapi aku bisa memasak seporsi wonton kalau kau mau."


Musan menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kelompok kami. Sementara salah satu dari kami memasak, Citra memberi ruang bagi Musan untuk duduk di sebelahnya.


"Kalian sudah lama di sini?"


"Hmm, cukup lama," ucapku. "Oh, ya! Kenalkan ini Citra, teman pena Hana dari Amerika. Tapi nampaknya kalian sudah saling mengenal satu sama lain rupanya."


"Ya, kebetulan aku punya saudara yang satu gereja dengan Musan. Bukankah begitu?"


"Oh, ya!" Musan menimpal. "Kakak Citra adalah salah satu jemaat di gereja kami."


"Musan, ini wontonmu," ucap salah satu dari kami. "Lalu Citra, ini uang seratus dolarmu."


"Loh, Tanjung," ucap Citra heran. "Kenapa kau mengembalikan uang ini?"


"Kami tahu kau hidup di dunia yang bebas," ucap kami berdua. "Namun di sini, menukar uang sebanyak ini bisa memicu radar yang tidak diinginkan."


Musan dan Hana terdiam sejenak. Mereka berdua sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Huh, kalian takut kena radar KMT rupanya," Citra terkikik. Ia mengambil uang itu dan mengambil empat koin emas dengan gambar Sun Yat-sen dari dalam dompetnya. "Kalau begini aman bukan?"


Kami bergeming. Kenapa dia punya koin ini? Siapa sebenarnya gadis yang satu ini?


"Ayo, ambillah," ucap Citra. "Anggap saja ini bentuk solidaritas dariku untuk kalian."

Lihat selengkapnya