"Sudah mainnya?"
Di balkon hotel yang menghadap langsung ke kerlip lampu Pelabuhan Tamsui, Acun berdiri kaku. Punggungnya menghadap sang bibi, kedua tangannya mencengkeram pagar besi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tawa centil Citra memecah keheningan yang pekat, suaranya seperti denting beling yang sengaja dijatuhkan ke lantai keramik. "Cucun, jangan galak begitu sama aku. Aku berlayar jauh-jauh kemari, lho. Cuma cari teman ngobrol, kok."
Acun tidak memedulikannya. Ia tetap memunggungi perempuan itu, tatapannya menyapu kegelapan laut di bawah sana. Matanya yang tajam, hitam legam seperti malam tanpa bintang, memantulkan riak air yang gelisah.
"Teman? Sejak kapan?" desisnya, suaranya serak dan rendah.
"Sejak aku pertama kali menapaki pulau ini, tentunya," sahut Citra ringan, seolah sedang membahas cuaca. Ia mengambil sebatang rokok dari kotaknya yang terbuat dari perak, menyulutnya dengan pemantik emas. Asap tipis mengepul dari bibirnya. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau suka dengan teman penaku? Si Hana itu. Manis juga anaknya."
"Bukan urusanmu." Rahang Acun mengeras. Nama Hana yang keluar dari mulut bibinya terasa seperti sebuah pelanggaran, sebuah penistaan.
"Oh, tentu itu urusanku, dong. Baby boy. Aku ini kan bibimu satu-satunya."
"Don't call me that, Auntie." Nada suaranya menusuk, dingin membeku.
"Ouch, Auntie." Citra menekan tangannya ke dada dengan gaya teatrikal. "Am I that old?"
Acun hanya diam sesaat, bahunya menegang. Ia akhirnya berbalik, menatap lurus ke mata bibinya yang kini berkilat geli.
"Kamu nenek sihir."
"Wow, a witch. Thanks for your compliment, Mijo!" Citra tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Ia mengembuskan asap rokoknya membentuk cincin-cincin kecil yang melayang lalu buyar ditiup angin malam.
Acun menarik napas berat. Udara malam yang lembap terasa menyesakkan paru-parunya. Ia tak ingin banyak basa-basi dengan bibinya yang satu ini, seorang master manipulasi yang menyamarkan racunnya dengan madu.
"Ketemu Musan?" tanyanya lugas, memotong sandiwara yang sedang berlangsung.
"Oh, ya. Tentu saja," jawab Citra enteng. "Kenapa?"
"Kabarnya?"
"Baik. Sehat walafiat," ujar Citra, matanya menelisik wajah keponakannya lekat-lekat. "Mijo, aku tahu kamu susah berbahasa Mandarin. Lepaskanlah topengmu untuk sesaat. Tidak perlu berpura-pura di depanku. Kita ini keluarga, bukan?"