Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #42

Lebaran Tahun Ular

31 Januari 1965

Selamat datang semi dataran baru, tiap bunganya mekar dengan harum;

Hamparan rumput meluas bak permadani, walet balik ke sarangnya untuk menyatakan cinta kembali.

Suara Citra meliuk indah di bait terakhir, mengalun lembut di atas denting piano dan gesekan biola yang mengiringinya. Ia mengakhiri lagu dengan sebuah senyum yang telah terlatih, sekalipun napasnya terasa sedikit sesak di dalam kungkungan cheongsam sutra merahnya. Tepuk tangan yang terdengar sopan dan terkendali segera mengisi keheningan di ballroom Grand Hotel yang megah itu. Para jenderal Kuomintang beserta istri-istri mereka, duduk di antara kepulan asap cerutu dan kilau perhiasan, mengangguk-angguk kecil sebagai tanda apresiasi. Mata Citra tertuju pada satu sosok di barisan terdepan. Ia membungkuk anggun ke arah Kong Er Jie, yang duduk tegak laksana pualam di kursinya, tanpa ekspresi. Wanita itu hanya diam, jemarinya menggosok punggung tangannya sendiri dengan gerakan ringan dan berirama.

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan begitu tepuk tangan mereda. Kong Er Jie tidak tersenyum. Ia hanya menatap Citra lekat-lekat, tatapan yang terasa mampu menelanjangi jiwa. "Nyanyi lagi, Citra," ucapnya singkat, suaranya pelan namun membelah udara seperti silet. "Ekspresimu kurang keluar tadi. Aku mau kau merasakannya, bukan hanya menyanyikannya."

Citra menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya terasa kering. Ini sudah kali keempat ia menyanyikan lagu larangan ini, sebuah melodi shidaiqu dari Shanghai yang dianggap terlalu sentimentil dan dekaden. Setiap pengulangan terasa lebih berat dari sebelumnya. Suasana hening untuk sesaat, bahkan para musisi orkestra kecil di belakangnya tampak menahan napas, menunggu isyarat. Dengan gerakan yang nyaris tak kentara, ia kembali menyesuaikan kerah cheongsam-nya yang terasa mencekik dan mengangguk pada sang konduktor. Ia akan memulainya lagi, untuk kelima kali.

Kali ini, sesuatu dalam dirinya berubah. Citra menatap podium dengan tatapan kosong, membiarkan semua kepura-puraan luruh dari wajahnya. Ia tidak lagi mencoba meniru senyum cerah dan energi Ge Lan yang genit. Sebaliknya, ia memanggil ke dalam dirinya persona Wu Yingyin yang elok dan anggun, sang Ratu Suara Sengau yang nyanyiannya selalu diselimuti selubung melankolia. Tanpa sadar, saat musik kembali mengalun, setetes air mata jatuh dari kelopak matanya, membasahi pipinya yang dipoles bedak tebal. Namun, suaranya tetap melengking dengan keindahan yang menyayat hati, sarat dengan kerinduan yang tulus.

Sejoli menari di atas angin, sungguh gambaran semi yang semriwing.

Semuanya diam membisu saat nada terakhir bergetar dan lenyap di udara. Citra kembali membungkuk dalam-dalam, menahan tubuhnya di posisi itu lebih lama dari yang seharusnya, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Keheningan kali ini berbeda; bukan lagi tegang, melainkan pekat oleh emosi yang baru saja ia curahkan. Sampai akhirnya, satu kata dari Kong Er Jie memecah kesunyian itu: "Bravo." Baru setelah itu terdengar riuh tepuk tangan yang gegap gempita, disusul siutan panjang dari beberapa jenderal yang lebih ekspresif. Begitu Citra mengangkat kepalanya, ia mendapati kursi Kong Er Jie dan Ibu Presiden telah kosong. Mereka sudah beranjak dari ballroom hotel tanpa sepatah kata pun.

"Citra!" Seorang jenderal tua dengan kumis tebal mendekat dan tanpa ragu memeluknya erat. Aroma brendi dan tembakau yang mahal menguar dari seragamnya. "Terima kasih sudah menyanyikan lagu yang begitu indah tadi. Kami semua terharu." Ia melepaskan pelukannya dan meraih sesuatu dari saku dalamnya. "Ini ada angpao titipan dari Presiden dan Kong Er Jie," ujarnya sambil memberikan tiga amplop merah tebal pada gadis itu. Kertasnya terasa kaku dan mewah di tangannya. "Xin nian kuai le!"

Wajah Citra seketika berubah. Senyum ceria yang tadi hilang kini terpasang kembali, seolah-olah topeng yang dikenakannya begitu ringan. "Xin nian kuai le, Paman!" balasnya dengan nada riang yang dibuat-buat, kedua tangannya menerima angpao dengan sopan. "Wan shi ru yi!"

Citra kembali ke kamar hotelnya dengan perasaan lelah. Ia benar-benar merasa nyawanya akan habis kali ini. Memang susah menyenangkan petinggi elit nomor satu di pulau ini.

"Setidaknya aku ada belasan angpao!" ucapnya dengan lega.

Ia membuka amplop merah pemberian para petinggi dengan seksama. Ada yang memberinya dolar amerika, dolar taiwan, dan… rupiah?

"Ampas," ujar Citra sambil membuang rupiah itu ke dalam tong sampah.

Citra menyisihkan tiga angpao dari keluarga presiden untuk dibuka terakhir. Total dari angpao yang ia dapat saat ini ada lima ratus dolar. Amplop presiden yang pertama berisi sepuluh lembar seratus dolar amerika, yang kedua sekeping emas berukuran tiga ratus gram dan yang ketiga ada secarik kertas?

Lihat selengkapnya