[LUN BAO]
Deja vu yang menyiksa.
Untuk kedua kalinya di awal semester, aku dan Tanjung kembali disetrap di tengah lapangan. Matahari yang menyengat di atas kepala terasa seperti sedang memanggang ubun-ubunku, dan peluh membanjiri pelipis hingga terasa perih saat mengenai mata. Kakiku yang menjadi tumpuan sudah bergetar hebat, sementara kedua tanganku yang mengangkat ember penuh air terasa seolah akan putus dari bahunya. Di sampingku, Tanjung memasang wajah tabah, kedua matanya terpejam berkonsentrasi menjaga keseimbangan, seolah sedang bertapa di bawah air terjun. Semua ini, lagi-lagi, berawal dari percakapanku dengannya sewaktu upacara bendera.
"Hei," bisiknya dari barisan di belakangku, suaranya nyaris tak terdengar di antara dengungan monoton pidato kepala sekolah. "Aku kemarin malam bermimpi aneh."
Aku mendengus pelan, berusaha tidak menarik perhatian. "Oh, ya? Apa kali ini mimpimu tentang aku yang sudah jadi pendeta lalu memberimu khotbah panjang lebar di mimbar gereja supaya kau cepat-cepat dibaptis?" sindirku, masih kesal karena ia terus menggangguku.
"Ehm, bukan itu," jawabnya, nadanya terdengar aneh, lebih serius dari biasanya. Aku bisa merasakan kedua matanya menyipit di punggungku. "Di mimpiku… Citra dan Xing Yuan menikah. Pestanya besar sekali."
Sontak aku membeku. "Apa?!" pekikku tanpa sadar, suaraku menggema di tengah keheningan lapangan.
Sebuah deheman keras dari Instruktur Lai, monster pengganti Instruktur Bai yang lebih mengerikan, menarik anganku kembali ke dunia nyata yang panas dan menyakitkan. "Waktu setrap kalian sudah selesai," geramnya, tatapan matanya setajam silet. "Bawa ember itu ke kamar mandi dan kembalilah ke kelas. Cepat!"
Aku dan Tanjung bernapas lega seolah baru saja lolos dari hukuman mati. Kami berdua langsung menurunkan ember dengan bunyi gedebuk yang keras, lalu terhuyung-huyung bergegas ke kelas dengan kaki yang masih gemetar. Namun, koridor sudah sepi dan kelas kami pun kosong melompong. Di sana, di atas papan tulis hijau yang bersih, terpampang sebuah tulisan kapita yang seolah ditulis dengan penuh amarah: "LUN BAO DAN TANJUNG PIKET SATU BULAN PENUH! TTD: TING-TING (SEKSI KEBERSIHAN BARU)".
Aku menatap tulisan itu dengan nanar, membayangkan sosok Ting-ting yang galak dan tidak kenal kompromi. Seketika, wajah Maya yang dulu selalu kuanggap menyebalkan terlintas di benakku.
"Aku kangen Maya," ucapku lirih, nyaris seperti rintihan. "Aku telah berburuk sangka padanya selama ini, menuduhnya cerewet dan picik." Dibandingkan dengan ini, omelan Maya terasa begitu lembut.
"Sudahlah," ucap Tanjung pelan sambil menepuk-nepuk pundakku dengan tangannya yang besar dan kapalan. Gesturnya sedikit canggung, tapi terasa tulus. "Dia sudah tenang di alam sana, tak perlu lagi mengurusi kotornya dunia ini. Dia sudah bebas dari semua ini."