[LUN BAO]
"Lah, kamu dapat apel juga, Lan?"
Semangkuk kembang tahu hangat tersaji di hadapanku, uap tipis mengepul dari permukaannya. Gula merah cair berputar lambat di antara tahu putih lembut. Sendokku berhenti di udara, menggantung di atas mangkuk.
"Maksudmu?" Alan menatapku, matanya sedikit menyipit. Satu sisi pipinya agak menggembung, menyembunyikan sisa kembang tahu di dalamnya.
"Apel." Aku mengetuk meja, mataku menunjuk ke tas kain yang tergeletak di bangku kosong sampingnya. Sebuah tonjolan bundar samar terlihat dari sana. "Citra Ong kasih apel ke kamu juga?"
Alan mengangguk kecil, menelan isinya. Tangannya meraih mangkuk, mengaduk kembang tahu perlahan. "Nggak cuma aku. Banyak yang dapat, dari kelas alam sampai kelas malam."
"Bukan apel biasa, kan?" Aku menyambar sendokku, mencicipi sedikit kembang tahu yang baru kuseruput. Manisnya pas, rasa jahenya menghangatkan tenggorokan.
Senyum Alan merekah tipis, melengkungkan sudut bibirnya. "Apel Jepang dengan tempelan emas."
"Nah." Aku menaruh sendok kembali. "Yang aku tahu, apel Jepang itu mahal."
Alan mengangkat bahu. "Dia bilang itu apel sisa oleh-oleh dari liburannya. Daripada mubazir, ya dibagi-bagikan."
"Omong kosong." Aku mendengus. "Buat apa dia ke sekolah kalau cuma mau bagi-bagi apel sisa? Ada maunya, itu pasti."
"Memang." Alan menunduk, matanya menatap pantulan dirinya di permukaan kembang tahu. "Dia mau aku melihat penampilannya, jadi aku dapat apel khusus."
"Citra tampil?" Alisku terangkat. Rasa hangat di tenggorokanku mendadak dingin. "Di mana?"
"Klub malam," Alan berbisik, suaranya nyaris tenggelam oleh keramaian kedai. "Dekat dermaga Tamsui."
Dermaga Tamsui. Tempat Acun dan anak buahnya sering nongkrong. Kepalaku terasa berdengung. "Buat apa?"
Alan mengangkat pandangannya, mencari mataku. "Dia bilang akan ada pentas menari dan bernyanyi juga di sana."
"Terus?" Aku mendesak. "Kamu setuju?"
"Aku... belum jawab," Alan memainkan sendoknya di mangkuk. "Dia cuma minta aku pikirkan. Pentasnya nanti di malam minggu."
Aku menyandar punggung ke kursi, merasakan tekstur kayu yang kasar menembus bajuku. Udara di kedai kembang tahu ini, yang tadi terasa nyaman, kini jadi pengap. Klub malam? Citra? Acun? Semua potongan itu berputar, membentuk pola yang tidak kusukai.
Alan diam, wajahnya memucat sedikit. Jemarinya berhenti mengaduk kembang tahu.