Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #45

Lantunan Carmen

Kami tiba di klub malam bernama El Rico. Di sini banyak sekali pria-pria asing berambut pirang serta beberapa pria berkulit hitam di dalam klub.

"Hei, hei, hei! Anak kecil kenapa ada di sini?" tanya seorang penjaga klub saat kami mencoba masuk. "Ini tempat orang dewasa!"

"Citra mengundang kami kemari," aku menunjukkan sticker emas dari apel yang kumakan seminggu lalu. "Dia bilang dia ada pentas hari ini."

"Saya tetap tidak bisa membiarkan kalian berdua masuk! Siapa yang pakai baju sekolah untuk datang kemari coba?"

Aku hanya bisa menutup wajahku dan menahan malu kepada Xing Yuan yang tidak mengganti baju sekolahnya untuk datang kemari. Memang kata "dewasa" tidak cocok untuk anak yang satu ini.

"Asui!" sebuah suara gadis elok bergetar di lorong kelab. "Biarkanlah mereka masuk."

"Tidak bisa Nona Citra, mereka tidak menggunakan busana yang pantas untuk acara malam ini."'

"Aku sudah menyiapkan pakaian untuk mereka, Asui," ucap suara itu. "Istrimu sedang sakit, bukan? Apa kau mau malam ini jadi malam terakhirmu bekerja di sini?"

"T-tidak, Nona, ma-maafkan saya," ucap penjaga kelab gugup. "B-baiklah, para Tuan Muda, silakan masuk."

Kami berdua masuk dan mendapati Citra berdiri di hadapan kami dengan dua setel tuksedo di tangannya.

"El Rico e youkoso!" ucap Citra sambil membungkukkan badannya. "Selamat datang di kelab kami, Tanjung dan Cipto!"

Kami berdua ikut membungkuk, memberi salam pada nona muda ini dan mengambil pakaian dari tangan Citra menuju ke ruang ganti. Setelah selesai kami disambut dengan penata rias untuk mengubah wajah kami yang dekil ini menjadi lelaki perlente.

"Kenapa kamu berlaku sampai sejauh ini, Citra?" tanyaku. "Aku kira kau benci kepada kami?"

"Huh? Benci? Kenapa kau mengira begitu?"

Aku kembali menjelaskan ekspresi gadis itu waktu pertama kali datang ke kedai mi sapi.

"Kau bahkan tidak mau menyentuh makanan itu," ujarku sedikit kesal. "Kalau bukan benci apalagi itu?"

"Oh, kau masih kepikiran soal itu rupanya," ia tertawa. "Maafkan aku, Tanjung. Aku bukannya tidak suka makanan itu, aku cuma belum sembuh dari mabuk laut. Kepalaku pusing waktu itu dan aku tidak mungkin kan pergi ke kedai tanpa memesan sesuatu?"

"Kak Citra benar," ucap Xing Yuan. "Lagipula Kak Tanjung enak kan bisa makan mi spesial gratis waktu itu, dapat seratus dolar lagi!"

Lah, kok anak ini malah membela Citra? Bukannya aku ini saudaranya?

"Ya sudah. Yati, tolong rias mereka baik-baik ya. Jangan sampai mereka kelihatan jelek waktu Hana pentas nanti."

* * *

Sorot lampu temaram membelah kepulan tipis asap cerutu di udara kelab malam, memusatkan pendar keemasannya pada satu titik di atas panggung. Di sanalah ia berdiri.

Hana.

Bibir berpoles lipstik merah delimanya setengah terbuka, mendekat pada mikrofon perak bergaya klasik. Begitu denting piano dan alunan saksofon yang sendu mengawali nada, Hana memejamkan mata. Tangannya yang lentik merayap naik, memegang tiang mikrofon dengan keanggunan yang seolah menghentikan putaran jarum jam.

Daku terpaku. Suaranya mengalir keluar—tinggi, jernih, dan begitu mendayu. Persis seperti sang diva Shanghai, Zhou Xuan, yang hidup kembali di tanah Formosa ini. Nada-nada dari lagu nostalgia itu mengalun dari pita suaranya, membawa kepedihan sekaligus kelembutan yang membuat bulu kudukku meremang. Rambutnya yang tadinya lurus kini jatuh bergelombang di atas bahu, membingkai wajahnya yang tampak begitu syahdu.

Setiap tarikan napasnya membuat cheongsam putih sutra yang membalut tubuhnya ikut bergerak halus. Di leher jenjangnya, giok naga putih itu memantulkan cahaya pijar, berayun lembut seirama dengan dadanya—sebuah bukti dari sejarah yang menjalin takdir kami berdua.

Di sekelilingku, riuh rendah kelab malam mereda. Suara denting gelas wine yang beradu perlahan lenyap. Para pedansa di atas lantai kayu tidak lagi bercengkerama; mereka memelankan tempo, melangkah seakan terbuai sihir dari lisan adikanda Hana.

Oh, malam Shanghai, kau adalah kota tanpa tidur,

Neon berkelip musik menyadur, tarian yang tanpa siur.

Hanya lihat senyum, siapa tahu hatinya murung?

Hidup malam hanya 'tuk makan dan minum.

"Kak Tanjung," ucap Xing Yuan padaku, "Itu giok dari Papa kan?"

"Ya, cantik kan Kak Hana?"

"Ya," ujar suara misterius di samping kami. "She is really beautiful tonight."

Daku membelalak menatap sosok dia yang luwes dalam berbahasa samudra. Tak nampak dalam pandanganku sosok itu adalah Acun yang terkenal lawas akan kebebalannya.

"Why are you looking at me like that, Tanjung?" Ujarnya pongak. "Bingung?"

Lihat selengkapnya