Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #46

Hangover

[TANJUNG]

Hal pertama yang aku sadari sewaktu kesadaranku kembali adalah pengar yang luar biasa. Kepalaku berdenyut hebat, seolah seseorang tengah mengencangkan kutukan cincin kepala emas di batok kepalaku dengan linggis panas. Setiap denyutan mengirimkan gelombang rasa sakit yang menyengat, menjalar dari pelipis turun ke leher, lalu menyebar seperti racun ke setiap sendi dan otot di seluruh tubuhku. Tulang-tulangku terasa remuk, seakan baru saja digiling.

Apa yang terjadi? Apa aku baru saja ditabrak truk tronton yang melaju kencang? Ingatan terakhirku kabur, terfragmentasi menjadi potongan-potongan gambar yang tidak jelas: air mata Hana, kilatan amarah, dan sebuah kepalan tangan yang melayang.

“Ah, sudah bangun?”

Sebuah suara membelah kabut di kepalaku. Seseorang menyibak tirai jendela, dan sebersit cahaya pagi yang menyilaukan menerjang tiap sel di mataku bagaikan serangan kamikaze ribuan pesawat Zero. Aku menarik napas dengan sengal, paru-paruku terasa sesak. Ketika mataku akhirnya bisa menyesuaikan diri, aku menangkap sosok lelaki bongsor berdiri di samping ranjang. Dia tersenyum, senyum yang begitu cerah dan lebar hingga tampak mengerikan.

“Are you finally awake, Mr. Tanjung?"

Rasa mual seketika naik ke tenggorokanku. Aku mengenali wajah itu, wajah yang ingin kuhancurkan. “Biadab kau Acun,” aku mengerang, suaraku serak dan parau. Tenggorokanku terasa sekering gurun pasir. “Kau… kau apakan Hana?”

“Maaf.” Satu kata itu meluncur dari bibirnya dengan begitu enteng, tanpa beban sedikit pun.

“Kau pikir maaf bisa memulihkan semua ini?” aku meringis, memaksakan lenganku yang terasa seperti jeli untuk menopang tubuhku. Aku berusaha untuk bangkit dari ranjang yang terlalu lunak dan mewah ini, kasur yang seolah ingin menelanku hidup-hidup. “Kau sengaja menciumnya, bukan? Kau melakukannya dengan sengaja!”

“That’s because I love her too! Just like you!” serunya, nadanya terdengar seperti rengekan bocah manja yang baru saja merebut mainan milik temannya.

“Itu bukan cinta, Bajingan! Itu cuma obsesi kotormu!” aku membentak, energi yang entah dari mana tiba-tiba membanjiri tubuhku, didorong oleh amarah yang mendidih.

“Ya. Benar.”

Aku terdiam seketika, terperangah oleh jawabannya yang singkat dan dingin. Si bangsat ini dengan mudahnya masuk ke mode irit bicara setelah pengakuan gilanya. Aku menatapnya, mencoba mencari secercah penyesalan di matanya, tetapi yang kutemukan hanyalah kekosongan yang angkuh. Aku mengalihkan pandangan ke sekeliling, baru menyadari di mana aku berada. Banyak sekali ornamen mewah di sekitar sini: vas porselen dari dinasti masa lampau, lukisan kaligrafi berbingkai kayu eboni, dan perabotan yang dipernis hingga berkilauan. Dari pemandangan pegunungan Yangming dan lembah Keelung yang terhampar di luar jendela raksasa, aku sudah tahu kami tidak berada di Tamsui. Ini hotel legendaris di Taipei. Hotel besar Yuanshan.

Lihat selengkapnya