31 Maret 1965
[TANJUNG]
Mama… aku melihat kembali wujudmu di dalam dirinya. Tiap kali aku menatap matanya, nostalgia itu kembali merasuki jiwa. Aku kini kian merana, Ma. Mengapa kesedihan di mata gadis itu selalu terbayang di dalam asa? Aku butuh sebuah jawaban… sebuah arti dan maksud atas semua keresahan ini.
Abu pembakaran kertas sembahyang membubung tinggi ke udara. Di hari Ceng Beng ini, aku dan Paman Guo berziarah ke makam Ibu yang berada di gunung Yang Ming. Bibi dan Xing Yuan tidak ikut karena mereka pergi berziarah ke makam Kakek Xing Yuan yang berada di Tao Yuan.
Api kembali membesar ketika aku melempar segepok kertas sembahyang ke dalamnya. Paman Guo masih mencabut sisa rumput ilalang yang tumbuh di atas tanah makam Mama dan menyapunya ke samping. Aku bersujud di depan kuil kecil milik dewa tanah dan menancapkan setangkai dupa di atas altarnya, asap dari dupa itu mengeluarkan bau harum yang meliuk-liuk di udara. Aku mengakhiri doaku kepada dewa tanah dengan merapatkan kedua tapak tanganku dan menempelkannya di atas dada.
“Jung, cepat habiskan kertas sembahyang yang belum dibakar. Jam dua siang kita harus sampai ke kuil.”
Aku mengangguk dan membakar sisa kertas sembahyang, tong pembakaran yang berasap-asap membuatku terbatuk-batuk untuk yang kesekian kalinya.
Matahari berada di atas kepala ketika kami berjalan menuruni gunung. Paman Guo menunggangi kuda besinya, sementara aku membonceng sambil menyeruput sekantong es teh kundur segar (yang baru saja kubeli dari kedai Bibi Liao).
Setelah perjalanan selama satu jam, kami pun tiba di kuil yang letaknya dekat dengan pantai Sha Lun. Kuil ini dibangun dari dana bersama dan baru saja selesai setahun lalu. Di sini, aku melihat banyak orang di lingkunganku bersembahyang. Kuil ini merupakan salah satu penghubung antara kami dengan para leluhur. Di sinilah tempat kami meletakkan persembahan untuk orang-orang yang telah mendahului kami dari generasi ke generasi. Aroma wewangian yang menyerbak di dalam kuil ini mengantarkan pesan-pesan kami kepada mereka, para arwah yang bersemayam di alam baka.
Hari sudah mulai sore ketika upacara di kuil telah usai. Paman Guo pulang ke rumah lebih dulu, sedangkan aku menyempatkan diri untuk menyusuri hamparan pasir di pantai Sha Lun. Pantai di mana aku mulai membuka mata dan memotret memori pertamaku.
Ada getaran yang aneh di dalam dada setiap kali mengunjungi pantai ini. Semacam kegetiran yang tak terucapkan ketika bayangan Mama kembali dalam benakku, terlebih di saat aku mulai mengerti makna dari butiran air matanya yang mengalir ketika menatapi lautan biru.
Di tengah debaran ombak yang menyapu jejak-jejak kaki ini, aku bisa melihat sosoknya kembali bangkit, nyata di hadapanku, semua gambar di dalam benakku kini terproyeksi di depan mataku.
Seorang gadis bergaun putih mematung memandangi lautan, hembusan angin semilir membelai rambut hitamnya dengan lembut. Ketika ia menatapku, aku bisa melihat kesedihan dan kerinduan yang kuat terpancar dari balik jendela jiwanya.
“Apa kau sering berkunjung ke pantai ini?”
Aku terdiam sesaat, lalu menjawab, “Hanya setahun sekali, untuk mengenang mendiang Ibuku.”