Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #48

Konspirasi Elit

3 April 1965

"Cibai."

Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Alim, nyaris tanpa suara, lebih seperti desahan napas yang sarat akan kekecewaan. Ia termangu di tengah kelab El Rico yang terasa aneh dan asing di bawah siraman cahaya matahari siang. Biasanya, tempat ini riuh rendah dengan musik, tawa, dan denting gelas. Kini, yang terdengar hanyalah dengung samar dari jalanan di luar dan napasnya sendiri yang terasa berat. Di hadapannya, di salah satu meja bundar yang lengket, duduk Citra yang sedang mengaduk es batu di dalam gelas gin-nya dengan ujung jari, dan Acun, keponakannya, yang menatap pusaran tequila di gelasnya seolah ada jawaban tersembunyi di dalamnya.

"Sejak kapan kalian berdua tahu soal ini?" tanya Alim, suaranya serak, seolah sudah lama tidak ia gunakan.

Citra mengangkat pandangannya, tatapannya tenang dan tak terbaca. "Sejak perayaan tahun baru imlek," ucapnya santai, seolah mereka hanya sedang membahas cuaca. "Aku sebenarnya sedikit heran kau butuh waktu selama ini untuk sadar. Kupikir kau lebih cerdik dari itu, Alim. Ternyata kau benar-benar sedang dipermainkan oleh Lun Bao dan Musan."

Kata-kata itu menghantam Alim seperti bogem mentah. "Pantas saja," Alim berbicara lebih pada dirinya sendiri, sama sekali tak menggubris nada merendahkan dalam suara Citra. Kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berceceran di benaknya mulai menyatu dengan sendirinya, membentuk sebuah gambar pengkhianatan yang mengerikan. "Semua jadi masuk akal sekarang. Itu sebabnya Aheng dan Koko Gembul mendadak pamit pulang kampung dengan alasan keluarga sakit. Itu sebabnya uang kas kita selalu kurang... Mereka semua tahu." Ia menatap kosong ke arah panggung dansa yang gelap. "Lun Bao, si anjing itu, dia tahu. Dan Musang sialan itu... dia pasti dalangnya."

Tiba-tiba, ia menoleh pada Acun yang masih membisu. "Ini gelas... harganya berapa?" Pertanyaan itu terasa ganjil di tengah ketegangan yang membekap ruangan.

"Gratis," jawab Citra menggantikan keponakannya.

Jawaban itu, entah kenapa, menjadi pemantiknya. "Anjing-anjing biadab!" Alim meraung, amarah yang sedari tadi ia tahan akhirnya meledak. Ia menyambar gelas di hadapannya dan membantingnya ke lantai keramik. Suara kaca pecah yang nyaring bergema di kelab yang kosong, meninggalkan keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya. Serpihan kaca berkilauan di lantai seperti permata yang hancur.

Lihat selengkapnya