Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #49

Goodbye, Robin

Sedan putih itu meluncur tenang di sepanjang jalanan Tamsui yang lengang. Sinar matahari Minggu siang menembus kaca depan, membuat butiran debu menari-nari di udara. Musan memegang kemudi dengan santai, satu tangan bertengger di jendela yang terbuka. Di kursi belakang, tiga ibu-ibu jemaat gereja yang baru saja ia jemput dari kebaktian mengobrol pelan, suara mereka berpadu dengan alunan lagu rohani yang mengalun lirih dari radio. Bau kamper dari pakaian mereka bercampur dengan aroma sampo kelapa milik Musan.

"Nak Musan ini memang baik sekali," celetuk Nyonya Lim sambil mengipasi wajahnya dengan buku nyanyian. "Selalu rela mengantar kami, orang-orang tua ini."

Musan tersenyum sekilas ke arah kaca spion. "Tidak apa-apa, Nyonya Lim. Kebetulan searah."

Di sebelahnya, di kursi penumpang, Robin duduk tegak. Anjing hitam legam itu menatap lurus ke depan, telinganya bergerak-gerak menangkap setiap suara dari luar. Lidahnya terjulur sedikit, napasnya teratur dan tenang. Ia tampak sama kalemnya dengan sang pemilik. Sedan berbelok di tikungan, memasuki sebuah gang yang lebih sempit. Rumah-rumah berdempetan, dan jemuran pakaian melambai-lambai di atas kepala mereka seperti bendera-bendera tanpa negara.

Tiba-tiba, dari balik tumpukan karung goni di pinggir jalan, seekor anjing kampung kurus berbulu cokelat kusam keluar. Ia mengendus-endus tanah dengan waspada, ekornya terselip di antara kedua kakinya.

Seketika itu juga, ketenangan di dalam mobil pecah.

Otot-otot di tubuh Robin menegang. Dengan satu gerakan cepat, ia menyembulkan kepalanya keluar jendela. Gonggongan yang kasar, dalam, dan penuh ancaman meledak dari tenggorokannya, menyalak-nyalak ke arah si anjing liar. Suaranya begitu keras hingga membuat kaca mobil bergetar. Anjing kampung itu terperanjat, melompat mundur dengan kaget lalu berlari terbirit-birit, menghilang di celah antar bangunan.

Di kursi belakang, ketiga ibu itu tersentak kaget. Nyonya Lim memekik pelan sambil memegangi dadanya.

Musan tidak menoleh. Senyumnya lenyap. Tangannya yang bebas bergerak cepat, mencengkeram bulu di tengkuk Robin dengan kasar. Ia menarik anjing itu kembali masuk dengan sekali sentak.

"Cicing!" desisnya tajam, sebuah perintah singkat dalam bahasa Sunda yang terdengar asing di telinga para penumpangnya.

Robin merengek pelan, namun langsung terdiam. Ia duduk kembali di kursinya, meski seluruh tubuhnya masih bergetar karena adrenalin.

"Aduh, Nak Musan," kata Nyonya Wang dengan napas yang masih terengah. "Anjingmu galak sekali. Tapi baguslah, dia sangat melindungimu."

Musan kembali memasang senyum tipis di wajahnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menaikkan kaca jendela hingga hampir tertutup, hanya menyisakan celah kecil. "Maaf, para Ibu. Dia hanya sedikit bersemangat kalau melihat anjing lain. Tidak akan menggigit, kok."

Ia kembali menginjak pedal gas. Sedan putih itu kembali melaju, meninggalkan gang sempit itu di belakang. Para ibu di kursi belakang melanjutkan obrolan mereka, meski kini dengan suara yang sedikit lebih pelan. Di sampingnya, Robin hanya diam, matanya yang gelap masih menatap waspada ke jalanan.

***

Rumah terakhir telah terlewati. Sedan putih itu meninggalkan jalanan Tamsui yang ramai, bertukar dengan hamparan sawah yang mulai menguning di kedua sisi. Tiga kursi di belakang kini kosong, hanya menyisakan aroma samar kamper dan rasa lega yang tak terucap. Musan melonggarkan cengkeraman pada kemudi, membiarkan bahunya sedikit turun. Misi mengantar para jemaat gereja selesai.

Ia tidak memutar balik. Sebaliknya, mobil terus melaju, mengambil jalan besar yang mengarah ke selatan, menuju rimbunnya perbukitan Xindian. Gembala di gereja mungkin akan bertanya-tanya ke mana ia pergi, tapi itu urusan nanti. Ada urusan lain yang lebih penting. Latihan tembak terakhir bersama Alim di Xindian.

Firasatku sangat buruk tentang si Badut itu.

Kata-kata Lun Bao kembali berdengung di telinganya, sejelas hembusan angin yang masuk dari celah jendela.

Lihat selengkapnya