[LUN BAO]
Waktu seakan memiliki sayapnya sendiri, terbang tanpa bisa dicegah. Tidak terasa setahun penuh telah berlalu sejak kepergian aktris legendaris Linda Lin Dai. Di pertengahan bulan Juli yang gerah, aku memutuskan untuk memutar kembali salah satu mahakaryanya, Endless Love. Proyektor tua di bioskop kecilku berderit pelan, menyorotkan cahaya kehidupannya ke layar putih yang kusam. Aku tidak sendirian. Di sisiku, duduk Musan dan keponakanku, Alan. Ruangan itu terasa pengap dan hening, hanya diisi oleh suara film dan napas kami yang tertahan. Di pangkuan kami tidak ada makanan ringan maupun minuman dingin; yang ada hanyalah kerapuhan tiga jiwa yang dipertemukan oleh takdir yang bengis. Aku, keponakanku, dan rivalku yang kini terasa lebih seperti sahabatku sendiri.
"Kau tahu," aku memulai, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, "setahun yang lalu, aku tidak akan pernah menyangka kalau hidupku bisa berubah sedrastis dan serumit ini."
Hening. Tidak ada yang menjawab. Aku melirik ke samping, menatap wajah Alan dan Musan yang diterangi oleh cahaya monokrom dari proyektor. Dua insan yang sama-sama telah direnggut kebahagiaannya oleh kenyataan pahit kehidupan. Aku mengenali tatapan mata itu dengan baik—tatapan kosong yang telah kehabisan air mata, sepasang lubang hitam yang sanggup menyerap segala cahaya dan harapan di alam semesta. Mereka tidak lagi melihat film di layar; mereka melihat kilasan tragedi mereka sendiri.
"Bagaimana dia mati?" Suara Alan memecah kesunyian, begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan angin. "Kenapa... kenapa ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri?"
Pertanyaan itu terlontar dengan ketepatan yang mengerikan, tepat di adegan saat karakter yang diperankan Linda menyanyi di sebuah kelab malam untuk pertama kalinya. Suaranya yang merdu mengalunkan lagu tentang sebatang pohon dan sulur-sulur yang saling membelit, saling menjalar, bersumpah untuk hidup dan mati bersama. Ironi yang begitu menusuk.
"Gas metana dan obat tidur," jawabku parau, menyebutkan fakta dingin yang kuingat dari halaman depan koran setahun yang lalu. Namun, mataku tetap terkunci pada sosok Linda di layar, seolah mencari jawaban yang lebih dari sekadar laporan koroner. "Tragis, memang. Sangat tragis."
"Aku rasa dia justru jadi makhluk paling bahagia di semesta ini," sela Musan dengan suara serak. Ia tidak melihat ke layar, melainkan ke bawah, ke tangannya sendiri. "Ia tidak benar-benar mati. Ia hanya berubah wujud menjadi sebuah memori yang abadi dan indah."
Tangan Musan menggenggam erat sebuah liontin perak berbentuk anjing yang tergantung di lehernya. Dengan gerakan perlahan yang penuh hormat, ia membuka liontin itu. Di dalamnya, alih-alih foto, tersimpan sebutir peluru magnum yang berkilauan mengerikan di bawah cahaya proyektor yang menari-nari.
"Aku tidak akan membuat kematianmu sia-sia, Kawan," ucapnya, kata-kata itu ditujukan pada kenangan anjing setianya, Robin.
Aku dan Alan sontak membelalakkan mata, terpaku pada kilatan logam dingin di dalam liontin itu. Sebuah pikiran buruk yang sama melintas dengan cepat di benak kami berdua.
"Eh, Musan, kau tidak sedang ingin melakukan hal bodoh, kan?" tanyaku, nada panik menyelinap tak terkendali ke dalam suaraku. "Kau sadar hukuman apa yang akan kau dapat kalau kau sampai menembakkan benda itu pada Alim, kan? Ini bukan main-main!"
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua itu," ucapnya dingin, sambil dengan tenang mengeluarkan peluru itu dan memasukkannya ke dalam silinder pistol revolver magnum yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya. "Bedebah itu harus membayar semua perbuatan jahatnya. Gigi dibalas gigi, mata dibalas mata."
"Hei, sadarlah! Ingat, kamu ini orang Shanghai," desakku lagi, mencoba menariknya kembali dari tepi jurang. "Jangan berpikir dengan kepala panas seperti orang-orang Sichuan itu, oke? Kita pakai otak."
"Persetan dengan Shanghai, persetan dengan Sichuan!" bentaknya, suaranya pecah. Air mata akhirnya membendung di pelupuk matanya yang memerah. "Otak Shanghai ini tak ada gunanya! Otak ini tak sanggup menyelamatkan Robin! Aku... aku tak bisa menyelamatkannya dari maut."
"Lakukanlah."
Suara Alan yang tenang dan mantap membuatku terperangah. "Alan!" seruku tak percaya.
"Musan benar. Robin tidak boleh mati dengan sia-sia," ia menatap Musan, bukan dengan tatapan ngeri, melainkan dengan kelembutan yang terasa ganjil dan di luar nalar. "Lakukanlah apa yang kamu anggap benar dan baik, Musan."