Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #51

Perpisahan di Songshan

Pagi buta membungkus Taipei dalam selimut kabut tipis. Roda mobil yang kami tumpangi mendesis di aspal basah, membelah keheningan jalanan yang masih tertidur. Di dalam, tak ada yang bicara. Xingyuan menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya melacak setiap tiang listrik yang berlalu. Aku duduk kaku di sampingnya, kedua tangan terkepal di pangkuan. Di baris depan, di samping sopir, Hana menatap lurus ke depan, sementara Citra bersenandung pelan mengikuti melodi yang hanya ia dengar di kepalanya.

Aroma parfum melati Citra yang tajam memenuhi ruang sempit mobil, beradu dengan bau samar cengkeh dan tembakau dalam rokok. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Hana masih mau mengantar Citra usai insiden El Rico. Kalau aku jadi dia, aku sudah memutus hubungan dengan penyihir satu ini.

"LA, ya," ucap Xingyuan setengah melamun. "Berapa lama kalau naik pesawat ke sana?"

"Sekitar sehari lebih, aku nanti terbang ke Tokyo dan Honolulu dulu baru terbang lagi ke LA."

"Wah, enak sekali ya," ucapnya. "Andai aku juga bisa ikut ke LA."

"You can catch me if you can, Cipto Boy."

"Oh, ok." Xingyuan menatap Citra tajam. "Challenge accepted."

Mobil kami akhirnya sampai di bandara Songshan tepat saat matahari terbit. Aku sebagai tukang pembawa koper segera keluar dari mobil dan mengambil koper ukuran besar dari dalam bagasi. Belum sempat aku mengangkat koper ketiga, Citra, Xingyuan dan Hana sudah pergi menuju lobi check-in.

Kejam sekali kalian, tidak ada satu orang pun yang mau membantu.

Dengan sigap aku mengambil troli dan menaruh tiga koper besar itu ke atas troli. Jujur, kalau tidak dengan iming-iming lima ratus NTD aku tidak akan sudi berada di tempat ini.

"Tanjung!" ucap Citra dari kejauhan. "Kamu salah antrian!"

Aku menghentikan troliku dan menoleh dengan kening berkerut. "Lah, di sini kan orangnya lebih banyak? Biasanya check-in memang di sini."

Citra mendengus meremehkan, membetulkan letak kacamata hitamnya. "Itu antrean untuk rakyat jelata. Bawa troli itu ke karpet merah di sebelah sana. Aku pemegang tiket Kelas Utama."

Rahangku mengeras. Keparat. Ingin rasanya kulempar tiga koper raksasa ini ke wajah angkuhnya. Namun, bayangan lima ratus NTD memaksaku menelan harga diri, memutar roda troli menjauh dari kerumunan orang-orang biasa menuju jalur khusus yang sepi dan berlapis karpet.

Aku pikir seusai check-in kami bisa segera pulang. Namun Citra justru menahan kami dan berkata, "Kalian mau sarapan dulu nggak di ruang VIP?"

"Maaf kami tidak punya baju perlente sepertimu."

Lihat selengkapnya