Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #52

Asmara di Balik Topan

26 Juli 1965

[TANJUNG]

"Wah, anginnya kencang sekali."

Suara Hana terdengar lirih, nyaris ditelan oleh gemuruh badai di luar. Dari balik jendela ruang tamu yang besar, kami menyaksikan amukan alam yang membabi buta. Dahan-dahan pohon di taman bergoyang hebat seolah hendak tercabut dari akarnya, dan hujan turun begitu derasnya hingga menyerupai tirai kelabu yang menutupi seluruh dunia. Aku berdiri di samping gadis itu, merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan hawa dingin yang merembes melalui celah jendela. Tanpa berpikir panjang, tanganku bergerak untuk merangkul bahunya, menariknya lebih dekat ke sisiku.

Hari ini hanya ada kami berdua di rumah yang terasa begitu lengang ini. Xingyuan sudah terlelap di kamarnya di lantai atas usai les privat yang melelahkan, sementara Paman dan Bibi Guo sedang menikmati perjalanan singkat mereka ke Tainan, tidak menyadari bahwa topan akan datang secepat ini. Ruang tamu yang biasanya ramai kini terasa sunyi, hanya diisi oleh suara napas kami dan deru angin yang tak henti-hentinya.

"Apa kamu mau menginap di sini saja," bisikku pelan, bibirku menyentuh kulit lehernya yang sehalus sutra. Aku mengecup tengkuknya lembut, menghirup aroma sampo melati dari rambutnya yang tergerai. "Paling tidak sampai badai ini benar-benar berakhir. Terlalu berbahaya untuk pulang sekarang."

Hana tertawa kecil, sebuah suara merdu yang terdengar seperti denting lonceng di tengah badai yang mengamuk. Ia memutar tubuhnya dengan anggun di dalam rengkuhanku hingga kami berdiri saling berhadapan. Tangannya yang mungil terangkat secara otomatis, jemarinya yang lentik merapikan kerah kemejaku yang sedikit berantakan sebelum akhirnya kedua telapak tangannya beristirahat dengan nyaman di dadaku, tepat di atas jantungku yang berdebar kencang.

"Kamu lupa kalau aku ini gurunya Xingyuan? Apa kata paman dan bibimu kalau mereka tahu aku tidur di sini saat mereka tidak ada di rumah?" godanya dengan suara pelan, namun sorot matanya yang dalam berkata lain. Ada binar jenaka di sana, sebuah undangan yang tak terucapkan. Tubuhnya tidak mundur satu inci pun dari pelukanku. Ia justru sedikit berjinjit, mendekatkan wajahnya hingga aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan beraroma teh di daguku. "Lagipula, kamu bahkan belum menawariku makan malam."

Aku tersenyum melihat tingkahnya. "Ini baru jam tiga sore dan kamu sudah selapar itu rupanya," balasku, ikut dalam permainannya. "Bagaimana kalau kudahulukan dengan camilan sore? Kamu mau teh, kopi, susu, atau… aku?"

Hana bergidik geli mendengar gombalanku yang payah, memberiku sebuah cubitan kecil di lengan. "Kamu ini terlalu banyak baca novel Qiong Yao, ya?"

Lihat selengkapnya