Lima jam sebelumnya….
[LUN BAO]
Angin dari laut menampar wajahku. Topan Harriet masih jauh di cakrawala, tapi napasnya sudah terasa di Tamsui, mengacak-acak rambut dan membuat jaket para lelaki berkibar seperti bendera perang. Kami tiba di depan El Rico bukan sebagai tamu, tapi sebagai pasukan. Tiga puluh lima orang kami kumpulkan termasuk aku dan Alim. Kami semua berbaris rapi dan membentuk formasi 5x7. Aku berada di garda depan bersama dengan Alim. Kami melengkapi diri kami masing-masing dengan senjata, Alim dengan pisau sementara aku dengan tongkat besi.
Lalu anak-anak Shanghai datang. Dua puluh orang, termasuk Musan, dan Acun. Anak-anak Shanghai yang berjalan di belakang Acun berusaha tampak sangar, tapi mata mereka tidak bisa bohong. Mereka melirik ke arah laut yang bergelora, lalu kembali ke dermaga yang kosong, seolah berharap musuh tidak akan pernah datang.
"Wah, kalian mau bertarung atau main sepak bola?" tawa salah seorang di antara kami. Aku dan Alim ikut menertawakan kekonyolan geng Shanghai. Namun faksi Shanghai sama sekali tak berkutik, mereka masuk ke dalam arena dengan sifat mereka yang congak.
Acun berhenti mondar-mandir. Ia meludah ke samping. "Cuma segini yang kau bawa, Lim?"
Alim tertawa, suaranya serak terbawa angin. "Lebih dari cukup untuk mengirim kalian semua memberi makan ikan, Cibai."
Pandangannya beralih kepadaku, lalu ke Musan. Senyumnya melebar. Pertarungan belum dimulai, tapi perang sudah diumumkan.
***
Angin menderu lebih kencang, membawa aroma garam dan pertumpahan darah yang akan datang. Tak ada lagi kata-kata. Acun mengangkat dagunya, sebuah sinyal yang dimengerti oleh semua orang. Dari kedua sisi, teriakan perang membahana, menenggelamkan suara deburan ombak. Kami berlari. Aku menggenggam tongkat besiku erat-erat, adrenalin memompa melalui pembuluh darahku. Dunia menyempit menjadi ruang antara aku dan barisan Shanghai yang berjarak beberapa meter di depan.
Di tengah derap langkah kaki yang serempak, sesuatu terasa janggal. Sebuah kilatan perak tertangkap oleh sudut mataku, datang dari arah yang salah. Dari belakang. Refleksku mengambil alih. Aku memutar tubuhku, menggunakan momentum lariku untuk menghindar. Udara dingin terasa mengiris kain jaketku persis di tempat ginjalku berada sepersekian detik yang lalu.
Alim. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum licik kini mengeras menjadi topeng kebencian murni. Pisau belatinya masih teracung, meneteskan air laut yang barusan ia tebas dari udara kosong. Beberapa anak buah kami yang paling setia padanya berhenti berlari ke depan dan berbalik, membentuk setengah lingkaran di sekelilingku. Pengkhianat.
"Anjing kau, Lim!" Aku menggeram, mengayunkan tongkat besiku hingga berdesing.
Alim menyeringai. "Kena kau, Tikus!"
Salah satu pengikutnya menerjang, mengayunkan pipa ledeng. Aku menangkisnya dengan bunyi logam beradu yang memekakkan telinga, getarannya menjalari lenganku. Aku balas menghantam lututnya. Tulangnya patah dengan bunyi retak yang memuaskan. Ia jatuh menjerit. Faksi Sichuan terbelah dua. Pertarungan kini terjadi di antara kami sendiri, saudara melawan saudara, sementara musuh yang sebenarnya tertawa di seberang sana.
Di tengah kekacauan internal kami, aku melirik ke seberang. Acun, bagai banteng mengamuk, sudah hampir mencapai garis depan kami. Tapi kemudian, hal yang lebih gila terjadi. Anak-anak Shanghai yang berlari di sisinya tiba-tiba tersandung. Mereka tidak jatuh. Mereka berbalik dan menerkam pemimpin mereka sendiri. Satu orang menyandung kakinya, yang lain menghantam punggungnya dengan balok kayu. Dalam sekejap, Acun dikerumuni oleh kawanannya sendiri.
Musan berdiri tak jauh dari sana, wajahnya datar tanpa ekspresi, sebilah pisau tersembunyi di genggamannya. Entah ini perintahnya atau bukan, aku tidak tahu. Anak-anak Sichuan yang tidak berpihak pada Alim, melihat Acun terjatuh, ikut bergabung dalam pengeroyokan itu.
Medan perang meledak menjadi neraka. Tak ada lagi Shanghai melawan Sichuan. Formasi hancur lebur. Seorang anggota Shanghai menikam punggung temannya sendiri untuk merebut rantai besinya. Dua orang dari gengku saling memukul dengan tangan kosong, melupakan musuh mereka siapa. Acun meraung seperti binatang yang terluka saat ia menghilang di bawah tumpukan tubuh yang menghajarnya tanpa ampun.
Kekacauan total. Aku tak punya waktu lagi untuk mengamati. Alim dan tiga pengikutnya yang tersisa kini mengepungku, pisau mereka berkilauan di bawah langit kelabu yang siap menumpahkan amarahnya. Perang geng yang megah telah berubah menjadi pertarungan brutal untuk bertahan hidup di tengah badai pengkhianatan.
"Mau kemana kau Lun Bao?"
"Jadi ini rencana busukmu, Lim," ujarku terkekeh. "Dasar badut jalanan."
Alim yang tersulut amarah segera menerjang. Chance! Aku mengayunkan tongkat besi tepat ke kepalanya, ia mengerang, memerintahkan anggotanya untuk melawan.
Dengan kelincahan Sun Gokong aku mengayunkan tongkatku dan berhasil memukul tiga kepala sekaligus. Namun sebelum aku sempat menyerang Alim untuk yang kedua kali, ia telah kabur dari hadapanku.
***
Dengan napas tersengal aku memindai neraka yang baru saja tercipta. Alim telah kabur, meninggalkan pasukannya yang setia dalam kekacauan, saling baku hantam dengan faksi kami yang lain. Di seberang sana, tumpukan tubuh masih menindih Acun. Aku menunggu jeritan terakhirnya, sebuah tanda kemenangan yang pahit.
Bukan jeritan kesakitan yang kudengar, melainkan tawa.