[TANJUNG]
Seminggu berlalu semenjak kejadian itu. Peperangan geng itu masuk ke dalam kolom berita koran ternama, Central Daily News, isinya:
APARAT BUNGKAM TEROR DI TAMSUI: GEMBONG KRIMINAL BERSENJATA API BERHASIL DIRINGKUS!
Tembak-Menembak Pecah di Tengah Topan Harriet, Satu Terduga Pelaku Lumpuh Diterjang Timah Panas Aparat.
TAMSUI – Di tengah amukan Badai Harriet tadi malam, aparat militer KMT berhasil menggagalkan aksi terorisme dan sabotase industri di Gudang Pelabuhan Tamsui. Sang dalang, seorang pemuda bernama Musan, menyerahkan diri beserta sepucuk senapan ilegal setelah aparat menembak lumpuh salah satu anak buahnya yang mencoba melarikan diri. Insiden ini juga memakan korban sipil, di mana seorang pengusaha lokal mengalami luka bakar kimiawi parah akibat serangan brutal kelompok tersebut.
"Waduh! Musan ini teman belajar kamu, kan Tanjung?" ucap Paman Guo panik. "Siapa sangka dia seorang pembunuh."
"Sudah, Paman," ucapku sambil mengunyah mantou. "Jangan kebanyakan baca koran. Nanti parno sendiri kita."
"Aku dengar Lun Bao jatuh dari atap, bukan?" ucap Bibi Guo. "Bagaimana keadaannya?"
"Dia sudah siuman," ucapku sambil menepuk remah-remah mantou. "Aku mau pergi menjenguknya."
"Aku ikut dong!" ucap Xingyuan antusias.
"Tidak," ucapku tegas. "Kamu di sini belajar yang rajin. Kamu sendiri kan yang bilang mau ke Amerika nanti?"
Xingyuan merespon dengan bibir yang manyun, aku tak menggubris dan segera keluar rumah dengan sepeda menuju stasiun Tamsui. Di tengah perjalananku ke rumah sakit aku merenung mengenai segala runut kejadian ini. Aku tahu kalau Musan bukanlah teroris gila yang menembak Alim secara acak. Ini pembunuhan berencana, dan aku nampaknya berada di luar radar selama ini.