Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #55

Tahun Ajaran Baru

[LUN BAO]

Aku berjalan dengan tongkat menuju ke sekolah. Belum sempat aku menarik napas di tengah lapangan sekolah yang ramai, sebuah kekuatan besar menghantam punggungku dari belakang. Rasanya seperti ditabrak seekor kerbau—dan memang benar pelakunya adalah si Kerbau itu sendiri, Tanjung. Aku terhuyung ke depan, hampir mencium tanah, sambil mengerang kesakitan.

"Paman Lun Bao!" serunya riang, sama sekali tidak sadar dengan kekuatannya sendiri. Setelah melihatku meringis kesakitan sambil memegangi punggung, barulah wajahnya berubah panik. "Eh, maaf, maaf! Aku terlalu bersemangat melihatmu."

Aku meluruskan tubuhku yang nyeri, menatapnya dengan jengkel. "Jangan panggil aku 'paman' di sekolah, Tanjung, dasar bodoh!" desisku, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Sudah berapa kali kukatakan padamu? Ingat, hubunganku dengan Alan itu rahasia besar."

Tanjung langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seolah-olah baru saja mengunci mulutnya dengan gembok tak terlihat. Matanya yang polos mengerjap beberapa kali saat otaknya yang lambat mulai menyambungkan titik-titik. "Oh... oke," gumamnya. "Jadi... teman penamu yang bernama Alan itu... dia?" Sebuah bola lampu imajiner akhirnya menyala di atas kepalanya. "Pantas saja kau begitu protektif. Selama ini aku kira Alan itu teman laki-laki."

Aku menghela napas, tak punya tenaga untuk menjelaskan kerumitan ini padanya. "Sudahlah, lupakan saja. Upacara akan segera dimulai," kataku, mendorong punggungnya pelan agar bergerak. Peluit sudah berbunyi nyaring, memanggil semua murid untuk segera membentuk barisan. Tanjung bergegas menyelinap ke dalam barisan. Sementara aku smepoyongan berjalan ke barisan kelas kami yang sudah mulai rapi, tepat sebelum guru pengawas melotot ke arah kami.

Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, kepala sekolah naik ke podium. Seperti kaset rusak yang diputar setiap hari Senin, ia kembali memulai ceramah panjangnya. Suaranya yang menggelegar melalui pengeras suara yang sedikit pecah, mengulang-ulang mantra yang sama: bahaya laten komunis, bla, bla, bla, waspadai penyusup dan mata-mata di tengah-tengah kita, bla, bla, bla, jaga kesetiaan pada negara, bla, bla, bla. Aku memutar bola mataku dan membiarkan pikiranku melayang.

Tahun ini benar-benar terasa seperti kaleidoskop gila yang berputar tanpa henti. Banyak sekali kejadian absurd yang tumpang tindih, membuat kepala pusing. Mulai dari kemunculan Citra si ular mamba, pembagian apel, hingga insiden dansa di El Rico yang nyaris menyeret kami semua ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih besar. Belum lagi konsspirasi di kedua belah pihak. Pertemuan terakhir dengan Musan di film Linda dan perang geng yang berkobar setelahnya. Jujur saja, aku tak menyangka ragaku masih utuh dan bisa bernapas sampai detik ini, terutama setelah merasakan sendiri terjangan dahsyat dari si babi hutan intelek bernama Acun. Sisa rasa sakitnya terkadang masih bisa kurasakan berdenyut samar di tulang rusukku jika aku terlalu fokus mengingatnya. Lalu Alan…? Alan!

Mataku yang tadinya setengah terpejam menahan kantuk kini terbelalak lebar. Aku menyapu barisan kelas Ai di sebelah, tempat ia seharusnya berdiri di antara para calon dokter dan insinyur, namun nihil. Sosoknya tak ada di sana. Jantungku berdebar sedikit lebih kencang—sebuah reaksi panik yang bodoh—sebelum pandanganku tanpa sengaja jatuh pada barisan kelasku sendiri. Dan di sanalah dia. Berdiri beberapa meter di depanku, di antara anak-anak Ren, dengan seragam yang sama persis denganku, seolah ia sudah berada di sana sejak awal tahun ajaran.

Aku memusatkan seluruh konsentrasiku, mengirimkan pesan tanpa suara yang melesat melintasi celah di antara kepala teman-teman kami yang mulai gelisah karena pidato yang tak kunjung usai. "Jangan bilang kamu benar-benar pindah ke kelas sosial?"

Dia tidak menoleh. Tapi aku melihat bahunya sedikit bergetar menahan tawa, sebelum ia mengangkat wajahnya sedikit ke arah bendera yang berkibar malas. Sebuah kedipan mata yang cepat dan nyaris tak terlihat menjadi jawabannya, diikuti oleh balasannya yang terdengar jernih di dalam benakku, nadanya begitu santai dan penuh ledekan. "Memangnya kenapa kalau aku pindah?"

***

Seperti biasa, suasana kelas yang semula gaduh seperti pasar pagi mendadak hening ketika wali kelas kami melangkah masuk, diikuti oleh sesosok gadis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dan seperti yang sudah bisa kuduga, karakter utama kita, si Tanjung-chan, langsung melongo bagai sapi ompong saat gadis itu diperkenalkan di depan kami semua. Rahangnya jatuh, matanya terpaku, dan aku bersumpah aku bisa melihat seutas air liur tipis nyaris menetes dari sudut bibirnya.

Gadis itu, Hana, hanya berdiri diam dengan rambut yang sederhana, namun di mata Tanjung, ia mungkin terlihat seperti bidadari yang baru saja turun dari kahyangan. Seolah-olah arwah ibunya yang telah lama pergi kini kembali dalam wujud seorang gadis SMA, persis seperti yang sering ia ceritakan padaku.

"Aduh!"

Lihat selengkapnya