Hana bergeming di tepi jalan. Pandangannya terarah jauh pada lautan yang membentang luas menembus cakrawala. Laut yang bukan cuma indah, namun juga membawa jurang yang dalam antara ia dan kampung halamannya. Antara ia... dan semua kenangan indah bersama ayahnya.
“Apakah kau… juga terperangkap di atas pulau yang indah ini?”
Kata-kata yang diucapkan lelaki remaja itu kembali terngiang di dalam telinganya. Ada satu nuansa baru di dalam jiwanya ketika ia mengingat kata itu lagi. Suatu emosi yang lebih kuat dari waktu-waktu sebelumnya, yang mendorong dirinya menapaki tiap anak tangga menuju hamparan pasir kecoklatan.
Emosi itu pulalah yang membawa angannya kembali ke masa kecil. Masa di mana hanya ada ia dan ayahnya, duduk bersama memandangi rembulan purnama di atas padang rerumputan.
“Papa, kenapa Mama pergi meninggalkan kita? Apakah Mama sudah enggak sayang lagi sama kita?”
Pria di sebelahnya hanya mengulas sebuah senyum. Ia tidak ingat apa yang ayahnya katakan waktu itu. Yang ia tahu hati ayahnya juga terluka. Siapa pula yang tak sakit melihat istri yang dicintai pergi ke dalam pelukan pria lain. Namun, seberat apapun ujian yang dialami sang ayah, Hana selalu bisa melihat senyum tersemat di wajahnya. Senyuman itulah yang selalu bisa menghangatkan jiwa kecilnya yang kesepian, menggantikan kesedihan atas kepergian Ibunya.
Tanpa sadar, kedua kakinya kini telah terbenam di antara butiran pasir coklat. Angin musim gugur yang berhembus lembut menemani tiap langkahnya, menjelajahi kenangan di masa gadisnya bersama sang ayah.
Masa itu merupakan masa-masa yang rumit bagi dirinya. Ia mulai menyimpan banyak kekesalan pada ayahnya. Terkadang, ia merasa kasih yang dia berikan mulai membuatnya sesak. Ia butuh kebebasan, maka dari itu ia mulai belajar membangkang dan menyembunyikan sesuatu dari ayahnya. Khususnya mengenai kisah cintanya dengan gurunya di sekolah. Di waktu itu, ia mulai merasa hubungannya dengan sang ayah menjadi dingin. Mereka juga kerap bertengkar soal hal-hal kecil. Namun, ada satu yang tak pernah berubah. Senyuman ayahnya masih sama seperti dulu, dan itu terkadang membuatnya merasa bersalah pada dirinya sendiri. Tetapi karena ego yang ada di dalam dirinya, ia tidak pernah sempat untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lakukan.
Lalu semuanya berubah saat kejadian itu…
Peristiwa itu masih jelas di dalam benaknya, ia marah besar pada ayahnya karena telah mengusir Mas Rizal yang datang melamar dirinya.
“Pria itu tidak layak untuk dirimu, Hana!”
Cinta telah membutakan matanya waktu itu, membuat ia tidak bisa menalari setiap perkataan yang ayahnya lontarkan.
“Papa jahat! Aku benci Papa!”
Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranku ketika mengatakan hal itu?
Perkataan ayahnya terbukti ketika ia mengetahui guru yang ia cintai menipunya dan pergi menikah dengan gadis lain. Sedih. Kecewa. Geram. Semua perasaan itu teraduk menjadi satu di dalam dadanya.
Ia menusuri jalan menuju rumah sambil menatapi luka di telapak tangannya. Bayangan wajah sang ayah yang murka sudah terpatri jelas di dalam benaknya. Ia tidak tahu apakah ia siap menghadapi hukuman yang akan diterimanya. Di kondisinya saat itu, ia merasa hidupnya telah tamat. Tidak ada jalan untuk kabur dari semua ini.
Napasnya terhenti ketika berpapasan dengan ayahnya dari kejauhan. Ia terdiam dan menutup kedua matanya saat melihat sang ayah berlari mendekat.
Papa...
Semua rasa takut yang ia rasakan itu seketika sirna ketika ia berada dalam dekapan ayahnya.
“Kamu pergi ke mana saja, Alan?” sang ayah mencium pipinya. “Papa kuatir dan mencari kamu ke mana-mana, Nak.”
Kasih sayang yang tidak terkira itu membuat tubuhnya menggigil. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan dari ayahnya. Yang ia punya hanya tangisan dan air mata yang terlontar dari balik pelukan yang hangat.
“Sudah, sudah,” ujar sang ayah menenangkan. “Kamu jangan nangis lagi ya, Nak. Ada Papa di sini.”
Jejak-jejak kaki yang tercetak di atas pantai kini telah mencapai batasnya, sama seperti waktu yang ia lalui bersama ayahnya. Pada akhirnya, ia harus berpisah dengan orang yang dikasihinya. Di dermaga itulah mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Hana tidak rela melepas pelukan sang ayah hingga detik-detik penghabisan. Ia berharap waktu bisa membeku pada momen itu, agar mereka bisa tetap bersama sampai selamanya.
“Hana,” sang ayah melepas pelukan putrinya. “Kamu jaga diri ya di sana. Belajar yang rajin dan jadilah anak yang baik. Papa janji akan menyusulmu nanti.”
Hana mengangguk. Ia mengusap air mata dan mengucapkan selamat tinggal pada ayahnya. Dari balik pembatas sang ayah melambaikan tangannya. Ia menengok wajah ayahnya sekali lagi dan membalas lambaian panjang itu. Sebutir air mata menetes ke atas tanah ketika ia memalingkan wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan berjalan menuju ke dalam kapal dengan mantap. Ia harus kuat demi ayahnya, demi janji di antara mereka berdua.
Ya, janji itulah yang membuat ia bertahan sampai saat ini. Di tengah kerinduannya yang mendalam janji itu menenangkan dirinya. Mengingatkan bahwa penantian ini tidaklah lama, semua akan terbayar ketika sang ayah sampai ke pulau ini. Setelah penantian ini berlalu, mereka akan berkumpul kembali dan berbahagia kembali... seperti sedia kala.
Namun, seperti ombak yang menyapu jejak kakinya di atas pasir. Begitu juga dengan harapan yang terpupuk di dalam hatinya. Habis lenyap... tersapu hanya dengan selembar surat.