Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #57

Malaria

11 Oktober 1965

[LUN BAO]

Wajahku mengeras layaknya batu sewaktu melihat deretan kata mandarin berderet rapi di dalam berita internasional.

Gejolak Hebat Politik Indonesia: Kudeta Berdarah G30S/PKI Dihancurkan, Jawa dan Bali Gelar Pemusnahan Elemen Kiri di Segala Lini!

"Bangsat! Kenapa tragedi selalu datang bertubi-tubi? Kenapa dunia nggak bisa sedetik saja damai?"

Aku membanting koran itu ke meja, membuat cangkir teh Kakak Wong bergetar dan isinya tumpah sedikit. Uap panas mengepul dari noda cokelat di atas kayu. Kakak Wong hanya menatapku dengan mata lelahnya, tanpa sepatah kata pun. Ia sudah terlalu sering melihat ledakanku akhir-akhir ini.

"Kau tahu apa yang paling kubenci?" Aku mulai mondar-mandir di ruang tamu yang sempit itu, lantai papan berderit di bawah setiap langkahku yang berat. "Keheningan ini. Seolah-olah kita semua sedang menunggu giliran untuk mati."

Aku melirik ke arah pintu kamar Alan. Tertutup rapat, terkunci dari dalam sejak kemarin. Sejak tragedi di pantai itu. Kakak Wong membawanya pulang, membungkus tubuhnya yang dingin dengan selimut tebal. Alan tidak bicara. Ia hanya masuk ke kamar dan menguncinya, menelan semua suara dari dunia luar. Kakak Wong mencoba mengetuk, membujuk, tapi yang kembali hanyalah sunyi.

Dunia di luar sana terbakar, negara keluarganya luluh lantak, dan ayahnya… entah apa nasibnya. Di dalam sini, Alan membangun benteng kebisuan di sekelilingnya. Dan aku? Aku terjebak di antaranya, tak bisa mendobrak masuk, tak bisa pula lari keluar.

Kakak Wong menyodorkan cangkir teh yang baru. "Minumlah. Kepalamu perlu dingin."

"Dingin?" Aku tertawa getir. "Bagaimana bisa dingin saat semua di sekelilingku terbakar, Kak? Indonesia kacau, Kak Qin-nong dalam bahaya, Musan di penjara, Alan…" aku berhenti, napasku tercekat.

Derit telepon di sudut ruangan memecah keheningan yang menyesakkan. Suaranya melengking, tajam, seperti jeritan. Paman Wong berjalan pelan dan mengangkat gagangnya.

"Halo, kediaman Wong."

Ia mendengarkan sejenak. Alisnya berkerut. Matanya yang biasanya tenang kini memancarkan kilat khawatir. Ia menoleh padaku, menutup corong telepon dengan telapak tangannya.

"Untukmu. Bibi Guo."

Perasaanku langsung tidak enak. Aku menyambar gagang telepon dari tangannya. "Bibi? Ada apa?"

"Bao… ini Tanjung…" Suara Bibi Guo serak, bergetar di ujung sana, dipenuhi isak tangis yang ditahan. "Dia… dia di rumah sakit."

Jantungku serasa berhenti berdetak. "Rumah sakit? Kenapa?"

Bibi Guo menarik napas dalam-dalam, "Malaria. Demamnya tinggi sekali sejak semalam, dia terus mengigau. Kemarin dia pingsan di depan pintu. Kami langsung membawanya ke Rumah Sakit Veteran."

Lihat selengkapnya