[TANJUNG]
"Selamat! Selamat!"
Dengan setelan jas hitam yang terasa kaku di pundakku, aku berdiri di ujung altar. Sinar matahari pagi menerobos jendela-jendela tinggi gereja, melukis lantai pualam dengan pola-pola cahaya keemasan. Wangi bunga lili dan mawar memenuhi udara, sebuah aroma yang manis namun tak mampu menenangkan debaran jantungku yang menggila di dalam dada. Telapak tanganku basah.
Di sebelah kananku, Lun Bao menepuk pundakku pelan, sebuah gestur tanpa kata yang terasa lebih menenangkan daripada seribu kalimat. Ia merapikan dasi kupu-kupuku untuk ketiga kalinya. Di sisi kiriku, Xingyuan menyeringai, matanya berbinar jenaka.
"Jangan pingsan, Kak. Nanti aku yang harus menggendongmu."
Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum kaku. Pandanganku menyapu barisan kursi terdepan. Di sana, Paman Guo duduk tegak, namun matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk kecil ke arahku, sebuah anggukan penuh kebanggaan. Di sebelahnya, Bibi Guo sudah tak bisa menahan air matanya. Ia menyeka pipinya dengan sapu tangan berenda, bahunya bergetar lembut. Melihat mereka, kerongkonganku tercekat. Mereka yang membesarkanku, yang memberiku rumah saat duniaku hancur. Dan hari ini, aku membawa kebahagiaan untuk mereka.
Tiba-tiba, alunan organ yang lembut berhenti. Hening sejenak. Lalu, nada-nada agung dari Wedding March mulai mengalun, memenuhi setiap sudut ruangan. Seluruh tamu serentak berdiri, membalikkan badan ke arah pintu utama yang terbuka lebar. Jantungku serasa berhenti berdetak.
Di sana, di ambang pintu, siluetnya terbentuk oleh cahaya mentari yang menyilaukan. Ia melangkah masuk, digandeng oleh Paman Wong. Gaun putihnya yang sederhana mengalir anggun, setiap langkahnya seolah melayang di atas lantai. Wajahnya dihiasi senyum lembut, matanya terpaku padaku, hanya padaku. Kalung giok naga putih beristirahat di leher jenjangnya, berkilau kehijauan saat ditimpa cahaya.
Seluruh keraguan dan kegelisahan yang menghantuiku selama ini menguap begitu saja. Dunia di sekelilingku memudar menjadi latar belakang yang kabur. Hanya ada dia. Hana. Berjalan ke arahku, membawa serta seluruh masa depanku dalam tatapan matanya. Ia adalah dermaga setelah badai panjang, kicang manis di tengah topan. Ia adalah rumah.
***
Hanya ada dia. Hana. Berjalan ke arahku... Namun, lantai pualam di bawah kakinya mendadak berderak. Sinar keemasan matahari meredup, tergantikan oleh temaram lampu berkedip. Wangi bunga lili di udara membusuk seketika, berubah menjadi bau anyir darah. Dengan perasaan bingung aku mengamati situasi ruangan di sekitarku. Tempat ini seperti sebuah gudang tua. Dinding-dinding dan atap besi berkarat di sekeliling menambah keyakinanku akan hal itu. Sesaat aku menyadari sebuah seragam tentara kini sudah melekat erat di atas tubuhku, lengkap beserta selaras senapan panjang yang menempel di atas dada.