Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #59

Penghakiman Musan

30 November 1965

Suara rantai besi yang terseret di atas lantai beton menggema di lorong sempit itu. Musan berjalan terseok-seok, diapit oleh dua polisi militer berseragam hijau zaitun. Tulang rusuknya terasa seperti mau patah setiap kali ia menarik napas.

Mereka mendorongnya masuk ke sebuah ruangan tanpa jendela. Udara di dalam terasa pengap, berbau asap rokok basi dan disinfektan murah. Tidak ada kursi untuk terdakwa. Musan dipaksa berdiri tegak di tengah ruangan, tepat di bawah sorotan lampu pijar yang menyilaukan mata.

Di seberangnya, tiga perwira militer KMT duduk di balik meja kayu jati yang tebal. Di belakang mereka, potret Jenderalissimo Chiang Kai-shek menatap ke bawah dengan raut wajah menghakimi, diapit oleh bendera Matahari Putih yang menjuntai kaku.

"Terdakwa bernama Musan," suara Jaksa Militer di sebelah kanan menggelegar, memecah keheningan. Ia berdiri, memegang map manila cokelat. "Sesuai dengan Undang-Undang Darurat Militer, kau dihadapkan di hadapan komite ini atas tuduhan berlapis. Pasal pertama: Penyelundupan senjata api ilegal dan amunisi tak berizin ke wilayah Republik."

Jaksa itu melempar sebuah benda ke atas meja dengan bunyi denting logam yang berat. Mata Musan, meski bengkak di sisi kirinya, mengenali benda itu. Magnum perak miliknya. Pistol yang sama yang pernah ia gunakan di bukit Xindian. Sisa peluru yang tidak sempat ia tembakkan ke kepala Alim berjejer rapi di sampingnya.

"Pasal kedua," lanjut Jaksa itu, suaranya kini naik satu oktaf, "bersekongkol dengan elemen-elemen subversif untuk merencanakan terorisme, pembunuhan terencana terhadap tokoh-tokoh lokal di Tamsui, dan upaya mengganggu stabilitas nasional."

Musan tersenyum miring. Senyum yang membuat luka di bibirnya kembali robek dan mengalirkan darah segar. Terorisme? Batinnya mendecak. Ia tahu siapa yang mengatur semua sandiwara ini. Acun, si brengsek itu, atau mungkin Alim, telah menjualnya kepada KMT dengan bungkusan cerita manis tentang pemberontakan komunis untuk membersihkan tangan mereka sendiri.

"Hakim Ketua, bukti sudah sangat jelas," Jaksa itu menoleh ke arah perwira tertua di tengah. "Kami menemukan senjata ini disembunyikan bersama sejumlah uang asing tak wajar. Terdakwa juga terbukti sering melakukan pertemuan gelap di sebuah bioskop tua di Tamsui."

Hakim Ketua, seorang pria tua dengan kumis tipis dan mata yang kejam, memicingkan mata ke arah Musan. Ia tidak terlihat seperti sedang mencari kebenaran, melainkan hanya ingin segera menyelesaikan tumpukan dokumen di mejanya agar bisa pergi makan siang.

"Terdakwa," ucap Hakim Ketua dengan nada bosan. "Kau menolak menandatangani surat pengakuan yang telah disiapkan. Apakah ada yang ingin kau sampaikan sebelum pengadilan militer ini menjatuhkan vonis?"

Keseragaman napas di ruangan itu seolah berhenti. Dua polisi militer di belakang Musan mengeratkan cengkeraman mereka pada senapan.

Musan mengangkat kepalanya yang babak belur. Secercah cahaya lampu pijar menyorot langsung ke matanya, memperlihatkan kilatan kebencian yang tidak bisa dipadamkan oleh pukulan sekeras apa pun. Ia terbatuk, meludahkan gumpalan darah ke lantai beton yang dingin.

"Yang Mulia," ia memulai, suaranya serak dan pecah, menggunakan dialek Shanghai yang kental, bukan bahasa Mandarin resmi yang diharapkan. "Panggung sandiwara ini bagus sekali. Tapi kalian salah tangkap aktor."

Jaksa Militer menggebrak meja. "Jawab pertanyaannya, Terdakwa! Jangan berbelit-belit!"

Musan menyeringai lagi, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Aku cuma pion. Raja dan Ratunya sedang tertawa di luar sana."

Hakim Ketua menghela napas panjang, tampak jengkel dengan drama yang tidak perlu. Ia sudah melihat puluhan, bahkan ratusan, terdakwa seperti ini. Semua punya alasan. Semua punya cerita. Baginya, itu semua hanya kebisingan yang menunda makan siangnya.

"Cukup," potong Hakim Ketua dengan nada final. Ia memberi isyarat kepada salah satu penjaga. "Panggil saksi kunci. Kita tidak punya waktu seharian."

Pintu kayu di sisi ruangan terbuka dengan derit pelan. Sesosok pemuda berkursi roda masuk. Alim. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika rapi dan celana bahan gelap. Wajahnya pucat, dibuat-buat agar terlihat seperti korban yang ketakutan. Ia berjalan menuju meja jaksa, sengaja tidak menatap Musan, seolah tatapan mata sahabat yang ia khianati bisa membakarnya hidup-hidup.

"Untuk memperkuat bukti makar ini, kami menghadirkan seorang patriot yang bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk melaporkan rencana pemberontakan terdakwa. Bawa masuk saksi."

"Saksi Zhang Shulin," ucap Hakim Ketua, memanggil nama asli Alim. "Sampaikan kesaksianmu."

Alim menunduk hormat kepada ketiga perwira KMT itu dengan gaya teatrikal yang dibuat-buat, lalu menoleh ke arah Musan dengan tatapan pura-pura sedih.

"Yang Mulia," Alim mulai bicara, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti warga negara yang taat. "Saya sudah lama curiga padanya. Dia selalu memaksa saya menemaninya untuk berlatih menembak. Dia bilang... dia bilang peluru-peluru itu disiapkan untuk membunuh para pejabat Garnisun dan menggulingkan pemerintah di Tamsui."

Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari mulut Alim. Ia telah menjual Musan demi menyelamatkan dirinya sendiri.

"Bahkan," lanjut Alim, suaranya sedikit bergetar karena akting, "dia melatih anjing hitamnya yang buas untuk menyerang tentara berseragam. Saat saya menolak ikut campur dalam rencana komunisnya, dia mencoba membunuh saya. Saya terpaksa membela diri."

Lihat selengkapnya