[TANJUNG]
12 Desember 1965
Inilah hari yang kutunggu-tunggu. Setelah menjalani perawatan selama berminggu-minggu, aku akhirnya pulih. Yang perlu kulakuan hari ini hanyalah mengantarkan mi ulang tahun dan telur merah buatan Paman Guo. Selama masa penyembuhan, aku tidak pernah berjumpa dengan Hana. Ya, hal itu bisa dimaklumi, mengingat aku telah menamparnya dua bulan lalu.
Aku mengayuh sepedaku dengan hati yang menggebu-gebu. Apa karena ia harus mengikuti ujian bulanan sesaat setelah hari nasional usai. Ia mungkin sibuk belajar dan tidak punya waktu untuk menjengukku.
Atau mungkin ia membencimu karena tamparan yang ku layangkan padanya waktu itu.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba untuk menghapus pikiran negatif itu dari dalam otakku. Prasangka buruk itu acapkali menghantuiku belakangan ini. Aku merasa bersalah atas perbuatanku waktu itu, seorang lelaki sejati tidak seharusnya bertindak kasar pada perempuan, terutama pada perempuan yang ia cintai.
Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari kalau aku telah salah jalan. Aku segera memutar sepedaku dan kembali ke rute yang benar. Ketika rumah yang kucari sudah di depan mata, aku segera mempercepat laju sepedaku, tak sabar untuk memberi kejutan untuk Hana di hari spesialnya.
Namun ketika sampai di sana justru akulah yang terkejut. Rumah ini tidak berwujud seperti aslinya. Taman yang dulunya terawat kini terbengkalai dan dipenuhi dengan rumput ilalang. Dedaunan kering berguguran memenuhi atap dan beranda rumah. Rumah ini seketika berubah menjadi rumah hantu. Aku turun dari sepedaku dan melangkah menuju ke beranda. Kejutan yang lebih hebat menghampiriku ketika aku melihat selembar kertas menempel di depan pintu rumah.
Sensasi dingin yang menusuk menjalar di sekujur tubuh ketika aku mengetahui tulisan yang tertera di atas kertas itu adalah surat penyitaan dari polisi rahasia. Cuma para pemberontak negara dan mata-mata komunis sajalah yang rumahnya disita dengan cara seperti ini.
***
Sepedaku segera mengarah ke kedai kembang tahu setelah mendengar ayah Lun Bao menyatakan ketidakberadaannya di rumah. Kalau tidak salah letaknya tidaklah jauh, kira-kira dua kilometer dari kediamannya.
Dugaanku ternyata benar. Palang kedai itu sudah bisa terlihat dari kejauhan. Ketika aku sampai di sana, aku melihat Lun Bao duduk sendirian. Ia nampak terkejut ketika melihat kehadiranku tepat di depan wajahnya.
“Hai… Kerbau,” sapanya. “Lama tak jumpa.”
Aku membalas sapaan itu dengan senyuman kecil, menarik kursi di hadapannya dan memesan semangkuk ronde jahe dengan porsi biasa.
“Ini,” ujarku sambil menyodorkan sekantung plastik mi sapi itu kepadanya. “Dari Paman Guo.”
“Wah!” serunya dengan mata berbinar. “Terima kasih. Aku kangen banget sama masakan Pamanmu ini, Jung. Akhir-akhir ini enggak bisa pergi ke sana, kau tahu lah—lagi masa pemulihan.”
Aku hanya terdiam mendengarkan perkatannya itu. Kesunyian menggelembung di antara kami berdua, lalu kembali memecah ketika Lun Bao mulai menatap kedua mataku dan berkata,
“Kamu ke sini bukan cuma mengantarkan mi, bukan?”
“Ya,” ujarku sambil menarik napas, “Ini ada hubungannya dengan Hana. Kamu tahu kan di mana posisinya sekarang?”
“Ya, aku tahu,” ujarnya sambil menyeruput air jahe di mangkuknya. “Ia sudah pindah dengan Kakak Wong ke Kaohsiung empat hari lalu.”
“Apa katamu?”
Kedua alisku terangkat beberapa senti ketika menangkap perkataannya tadi.
“Kubilang,” ucapnya sambil mengunyah butiran ronde. “Dia dan Kakak Wong sekarang tinggal di Kaohsiung. Paman Wang dapat pekerjaan baru di sana.”
“Omong kosong!” bantahku.
Dengan terbata-bata aku memuntahkan semua kejadian yang kualami sore kemarin, tentang surat penyitaan yang tertempel di pintu rumahnya waktu itu.
“Apa kau sudah melihat surat itu dengan teliti?”
“Ya,” tegasku. “Tepat sampai pada huruf terakhir. Marga Paman W0ng tertulis di dalam surat itu dengan sangat jelas.”