11 Desember 1965
Hana duduk termangu menatapi jam bandul tua dari kayu gelap yang berdiri tegak di hadapannya, menjulang seperti hakim agung yang siap menjatuhkan vonis. Kedua matanya terus terpaku pada dua jarum hitam ramping yang menempel di atas piringan jam yang sudah sedikit menguning. Angka-angka Romawi yang tertunjuk oleh kedua jarum jam itu seolah mengejeknya, membuatnya semakin resah seiring detik yang berlalu. Sesekali ia mencoba untuk merebahkan diri di atas kursi panjang yang keras itu dan membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan selimut wol yang tipis, namun usahanya sia-sia. Bunyi ayunan bandul yang ritmis—tik-tok, tik-tok—terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak terhindarkan, berpadu dengan dentuman jantungnya sendiri yang menggema di dalam dada. Tidurnya tak pernah bisa nyenyak.
Dengan napas berat yang menguap di udara dingin, ia akhirnya menyerah dan berdiri. Kakinya yang telanjang terasa ngilu menyentuh lantai kayu yang sedingin es. Ia berjalan pelan menuju jendela besar di samping pintu depan, jemarinya yang gemetar menyingkap tirai beludru yang tebal dan berdebu. Pemandangan yang ia dapat di baliknya hanyalah sebuah jalanan yang tak bernyawa, diterangi cahaya kuning redup dari lampu-lampu jalan yang beberapa di antaranya berkedip-kedip sekarat. Tidak ada mobil yang lalu-lalang, tidak ada pejalan kaki yang bergegas pulang. Tidak ada tanda-tanda kalau orang yang ditunggunya akan segera datang. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam dan bayangan pepohonan yang menari-nari ditiup angin, tampak seperti hantu-hantu kurus yang meratap.
Ia berjalan kembali ke tempat asalnya, ke kursi panjang yang menjadi saksi bisu kegelisahannya. Belaian angin malam yang tajam dan lembap, yang menyusup tanpa ampun dari balik celah-celah jendela dan pintu rumah tua itu, membuatnya menggigil hingga ke tulang. Dengan cepat ia kembali bergelung ke dalam selimut, membentuk kepompong dengan satu celah kecil bagi kepalanya untuk bernapas. Sesaat, dalam kungkungan dingin itu, ia merasa rindu yang teramat sangat akan udara hangat di kampung halamannya di Surabaya. Udara yang lengket oleh uap garam dan aroma masakan dari dapur-dapur tetangga, udara yang membuatnya berkeringat bahkan saat hanya duduk diam.
Ya, setidaknya aku tak perlu khawatir dengan gigitan nyamuk di musim seperti ini, batinnya, sebuah upaya ironis untuk menghibur diri.
Seolah dingin tak cukup untuk menyiksa malamnya, ia kembali mendengar suara protes dari dalam rongga perutnya yang kosong. Bunyinya terdengar parau dan menyedihkan di tengah keheningan ruangan. Segelas air putih yang diteguknya sejam yang lalu ternyata tidak bisa menggantikan makan malamnya. Ia menutup mata rapat-rapat, mencoba untuk membayangkan hal-hal lain demi mengisi kekosongan yang terasa melilit di dalam perutnya. Bayangan semangkuk soto ayam hangat, nasi rawon yang mengepul, atau bahkan jajanan pasar yang manis. Namun, semua itu hanya membuat rasa laparnya semakin menjadi-jadi.
“Why did I end up here?” pikirnya dalam hati, pertanyaan itu bergema tanpa jawaban. Bagaimana aku bisa terdampar di rumah yang dingin ini, sendirian dan kelaparan?