15 Desember 1965
Embun menempel di dinding beton Markas Komando Garnisun Taiwan, meneteskan hawa dingin yang meresap ke tulang. Tak ada bangku untuk penonton, jurnalis, apalagi keluarga. Hanya satu meja hakim, satu kursi pesakitan, dan kekosongan yang melipatgandakan setiap decit sepatu bot di lantai. Dinding-dinding ini tidak dibangun untuk mendengar pembelaan, hanya untuk meredam gema palu vonis.
Di dinding utama, potret Sun Yat-sen dan Chiang Kai-shek menatap lurus dengan mata kosong, diapit bendera Matahari Putih Langit Biru milik Kuomintang yang warnanya telah luntur oleh asap tembakau dan udara yang pekat.
Di tengah ruangan, di atas kursi kayu pesakitan, duduk Hana. Kedua tangannya terborgol di pangkuannya. Napasnya teratur, punggungnya lurus, dagunya terangkat.
Di hadapannya, tiga perwira tinggi KMT berseragam hijau zaitun, lencana matahari berkilat di kerah mereka, menatapnya layaknya sekelompok serigala yang telah menemukan mangsanya. Ia seorang diri, menghadapi tatapan tajam dari para loyalis partai itu.
Palu diketuk. Hakim Ketua Pengadilan Militer, seorang kolonel berwajah keras dengan bekas luka di pelipis, membiarkan suaranya yang tajam membelah keheningan.
"Terdakwa Xu Xianglan!" Suara kolonel itu menggema, memantul di dinding. "Penyelidikan Garnisun telah menemukan bukti tak terbantahkan. Sebuah buku hijau berisi enkripsi rumus matematika yang mengandung catatan Mao Zedong ditemukan dalam kepemilikanmu sejak kau merantau ke pulau ini! Kau dituduh sebagai agen subversif, mata-mata pemberontak, dan pengkhianat negara yang menyebarkan propaganda komunis demi merongrong Republik!"
Kolonel itu mencondongkan tubuhnya, tatapannya menembus. "Apakah kau menyangkal tuduhan ini? Bicaralah! Jika kau menyebutkan nama-nama sel komunis lainnya di Tamsui, pengadilan ini mungkin akan mengampuni nyawamu!"
Hana balas menatap mata kolonel itu, jernih dan tak bergeming. Bibirnya tetap terkatup, keheningannya seteguh karang yang dihempas badai taifun.
"Apa kau tuli?!" bentak jaksa militer dari sisi kanan, menggebrak meja. "Jawab pertanyaannya! Apa kau mengakui bahwa kau adalah bagian dari bandit komunis?!"
Bibir Hana perlahan terbuka. Suaranya mengalun tenang, tanpa getar, menyapu ruangan pengap itu.