Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #63

Amnesti

20 Desember 1965

Di dalam kantor kepresidenan yang sunyi, hanya suara gemerisik kertas dan denyut jam tua yang mengisi malam pekat. Presiden Chiang Kai-shek duduk tegak di kursinya, wajahnya bagai topeng pualam di bawah sorotan lampu meja. Di hadapannya, setumpuk map dari Komando Garnisun Taiwan menanti keputusan akhir. Satu per satu, ia memeriksanya dengan tatapan tajam, penanya siap menggoreskan takdir di atas nama-nama yang tertera.

Ia mengambil map berikutnya yang terletak paling atas dari tumpukan prioritas. Ada stempel merah terang bertuliskan 'Mendesak' di sudut kanan atas sampulnya. Xu Xianglan. Gadis Tionghoa-Indonesia. Usia delapan belas tahun. Tertangkap basah memiliki buku catatan berisi pemikiran Mao Zedong. Dakwaan: subversi. Rekomendasi hukuman: eksekusi mati. Semua tampak seperti kasus-kasus lainnya, deretan pengkhianat yang harus disingkirkan demi keamanan negara.

Namun, sesuatu dalam lampiran laporan itu menghentikan gerakan tangannya. Sepotong foto hitam-putih menampilkan wajah seorang gadis muda yang menatap lurus ke arah kamera. Matanya tidak menunjukkan rasa takut, hanya ketenangan yang ganjil. Di bawah foto itu, sebuah catatan dari petugas persidangan menarik perhatiannya. Terdakwa tidak mengajukan pembelaan. Tidak menangis saat vonis dibacakan. Hanya memiliki satu permintaan terakhir: ingin dibaptis oleh seorang pendeta sebelum eksekusi.

Chiang mengerutkan kening melihat kewarganegaraannya. Indonesia. Laporan intelijen dari Jakarta bulan ini menyebutkan bahwa militer sayap kanan sedang membantai kubu komunis di sana. Membunuh seorang warga sipil Tionghoa-Indonesia saat ini mungkin akan menarik perhatian yang tidak perlu dari rezim baru yang berpotensi menjadi sekutu anti-komunis Taiwan. Gadis ini mungkin lebih berguna sebagai pion yang bernapas daripada mayat.

Chiang meletakkan penanya. Ia menatap foto itu lebih lama. Seorang gadis yang di ambang kematian justru mencari kedamaian dalam iman. Permintaan itu bergema dalam dirinya, seorang penganut Kristen yang taat. Ia teringat akan bisikan istrinya tentang pengampunan dan belas kasihan, tentang kekuatan iman di saat-saat tergelap. Menghabisi nyawa seorang anak yang baru saja memeluk Tuhannya terasa seperti sebuah kekejian yang melampaui urusan negara.

Ia meraih gagang telepon di sampingnya. Panggilan itu tersambung dalam sekali dering.

"Siapkan berkas Xu Xianglan." Suaranya tenang namun mutlak, membelah kesunyian malam. "Ganti hukumannya. Penjara seumur hidup."

Ia meletakkan kembali gagang telepon itu dengan pelan. Map cokelat itu ia sisihkan, nasibnya telah diubah dalam sekian detik. Tanpa jeda, tangannya meraih map berikutnya, malam masih panjang dan tumpukan kertas itu belum juga berkurang.

***

25 Desember 1965

Hujan tipis turun di luar jendela, sebuah keajaiban kecil untuk Taipei di bulan Desember, tetapi aku tidak memedulikannya. Seluruh duniaku menyempit menjadi kotak kayu berdebu di atas meja kerjaku. Jari-jariku melayang di atas kenop volume radio transistor, gemetar. Desis statis berderak seperti api unggun yang sekarat, diselingi oleh suara tenang seorang penyiar yang membacakan daftar nama.

Setiap nama yang bukan miliknya adalah sebuah pukulan di ulu hati. Keringat membasahi keningku, mengalir ke pelipis, meskipun ruangan itu dingin membekukan. Aku mencengkeram tepi meja, buku-buku jariku memutih. Jantungku berdebar kencang, sebuah genderang perang yang menggema di telingaku, menenggelamkan semua suara lain kecuali suara penyiar yang monoton itu.

Lihat selengkapnya