Tanjung Hana

Rico Sumitomo
Chapter #64

Some Sunny Day

6 Juni 1966

[TANJUNG]

Upacara kelulusan datang dengan begitu cepat, seperti badai yang lewat dalam semalam dan hanya menyisakan keheningan canggung di pagi hari. Di tengah riuh rendah tawa dan sorak-sorai teman-temanku, aku merasa terasing, terperangkap dalam duniaku sendiri. Sudah hampir belasan surat kukirimkan kepada Hana, masing-masing membawa serpihan harapan yang kini terasa naif. Namun, tak satu pun yang mendapatkan balasan. Keheningan darinya terasa lebih memekakkan daripada suara bising di sekelilingku. Aku mulai merasa ia memang telah benar-benar membenciku sekarang; setiap hari tanpa kabar darinya adalah penegasan atas kesalahanku.

"Ayo Tanjung! Jangan melamun saja! Kita foto bersama!" suara Lun Bao yang ceria memecah lamunanku. Ia melambai-lambaikan tangannya dari atas panggung darurat yang didirikan di halaman sekolah.

Dengan langkah yang terasa berat, aku berjalan lunglai menuju kerumunan murid-murid yang sudah berbaris rapi. Aku memaksakan seulas senyum tipis saat berdiri di antara mereka. Bersama dengan para guru dan kepala sekolah yang bangga, kami mengambil foto kelulusan kami. Kilatan blitz dari kamera terasa menyilaukan, sebuah momen kebahagiaan yang tak bisa kurasakan. Begitu sesi foto selesai, aku segera turun dari podium, menyelinap pergi dari keramaian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku butuh udara, butuh tempat untuk menyendiri.

"Ah, kamu di sini rupanya," sebuah suara familier terdengar dari belakangku.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Lun Bao menanjak turun dari bantaran sungai yang landai dan duduk di sebelahku di atas rerumputan yang lembap. Hening sejenak, hanya suara aliran air dan desau angin yang menemani kami.

"Benar-benar masa SMA yang menegangkan, bukan?" ia akhirnya membuka suara, merangkul bahuku dengan hangat. "Siapa sangka kita berdua bisa sampai di titik ini? Aku benar-benar tidak menyangka bisa mengambil ijazah ini. Aku bahkan berpikir tidak akan bisa hidup sampai tahun ini, setelah semua kekacauan yang kita lalui."

"Ya, good for you," ucapku datar, pandanganku kosong menatap riak air sungai.

"Oh, jangan sedih begitu dong!" ia meninju lenganku, tidak terlalu keras tapi cukup untuk menyentakkanku. "Aku tahu kau memikirkannya. Nih!"

"Apa ini?" tanyaku, sedikit bingung saat ia menyodorkan selembar surat yang terlipat rapi. Amplopnya berwarna biru muda, warnanya yang lembut terasa kontras dengan suasana hatiku yang kelabu.

"Buka saja sendiri," jawab Lun Bao sambil tersenyum penuh arti.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menerima surat itu. Saat jemariku menyentuh kertasnya, aroma semerbak bunga yang familier seketika meruak, memenuhi udara di sekitarku. Aroma ini... aroma yang selalu mengingatkanku padanya. Jantungku berdebar kencang.

"Ini… ini dari Hana?" suaraku nyaris berbisik, penuh harap dan tak percaya.

Lun Bao hanya tersenyum lebih lebar. Aku membuka lipatan surat itu dengan hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang rapuh. Tulisan tangannya yang rapi dan indah menyambutku.

Tanjung tersayang,

Maafkan aku karena baru bisa membalas surat-suratmu sekarang. Aku sudah membaca semuanya, berulang kali. Jangan pernah berpikir aku membencimu, karena itu tidak akan pernah terjadi. Beberapa bulan terakhir ini begitu sibuk dan kacau, aku bahkan hampir tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku baik-baik saja di sini.

Nyatanya, aku sedang menyiapkan diri untuk melanjutkan perguruan tinggi di Amerika. Semuanya terjadi begitu cepat, tapi ini adalah kesempatan yang tidak bisa kulewatkan. Aku harap kau mengerti. Dan aku juga berharap kita bisa menunaikan janji kita di sana, di bawah langit yang berbeda.

Lihat selengkapnya