Aku masih ingat apa yang membuatku masuk ke dalam cerita cinta Tanpa Kata-Kata. Tanganku teracung tinggi menunjuk langit-langit kelas, sekaligus menunjuk takdir cinta pertama masa SMA.
"Ee ... siapa saja yang belum berpartisipasi di Pensi kita ini? Tunjuk tangan dulu." Logat batak Ibu Silaban alias Ibu Gempal (nama panggilan di circle murid) benar-benar sekental kopi Sidikalang.
Tau kopi Sidikalang, kan? Kopi khas yang berasal dari salah satu daerah yang masih asri di Indonesia. Kalau tidak percaya, coba saja googling kecamatan Sidikalang, kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Lihat betapa masih banyak pohon-pohon di sana. Jaraknya kira-kira 4-5 jam dari kota Medan.
Aku dan beberapa siswa lain mengacungkan jari telunjuk ke udara. Suasana siang yang terik di jam terakhir pelajaran membuat kami kurang bersemangat. Ibu Silaban datang ke kelasku, 11-A, untuk mendata siswa yang ingin bergabung di drama perjuangan pahlawan Sisingamangaraja. Drama yang akan dipertunjukkan di pensi HUT RI di SMA kami, SMA Dharma Bangsa.
"Ai na boha do halakkon!1" ( Ada apa dengan kalian ini?). Masih muda pun sudah lemas. Mana semangatnya ... mana!" bentaknya sambil menghentak kaki (ciri khas bila sedang emosi atau bersemangat) dan sukses membuat seluruh murid tertawa terpingkal-pingkal.
"Malah ketawa lagi kalian ini. Sudah-sudah, siapa yang mau ikut kegiatan drama?"
"Dramanya tentang apa, Bu?" celetuk si Botak Sahat.
"Ya, tentang perjuangan pahlawan, Anakku Botak. Acara ini untuk memperingati hari kemerdekaan, masa kita mau buat drama tentang Cinderella?"
Kelas pun kembali riuh dengan suara tawa membuat pipi Sahat memerah.