Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #5

"Drew .... "

Becandaaa ... ternyata stok kesabaran ini masih diuji lagi dan lagi.

Aku masih tertahan di kelas bersama pemeran Raja Sisingamangaraja, Adam Witjaksono, kakak kelas yang juga ketua OSIS. Semua orang sudah pulang termasuk David yang jadi salah satu tentara Belanda. Di perkenalan naskah itu juga aku baru tahu banyak murid perempuan yang menyukainya.

"Nama saya David Ginandjar Bara berperan sebagai tentara Belanda," ucapnya biasa saja tapi membuat mereka histeris. Aku senyum sambil menggeleng kepala melihat para geniters itu. Walau pun memang dalam hati ikut berteriak sedikit hehe. Melihat dia berdiri apa adanya menarik rasa penasaran meski masih bisa kutepis saat itu.

Ibu Silaban memintaku dan Adam membahas naskah kami yang memang termasuk panjang dan rumit. Mendiskusikan cara agar naskah panjang itu tidak menghambat proses latihan. Selain naskah, kami pun banyak membahas kegiatan sekolah. Aku bertanya tentang kegiatannya yang termasuk sibuk untuk ukuran anak SMA. Apalagi, dia sudah kelas tiga yang harus fokus UN.

Hari sudah sore saat kami selesai membahas isi naskah dan cara-cara praktis menghafal dialog. Kami berpisah di teras kelas lalu saling menyemangati. Sungguh tak menyangka bisa berdekatan dengan siswa keren seperti dia. Shaniar yang sangat mengidolakan Adam pasti akan menagih banyak cerita.

Kakiku ringan melangkah di jalan setapak taman kelas. Di ujung jalan, aku melihat si Lesung Pipi sedang berdiri sambil bersandar ke tiang pagar. Tangannya menggerak-gerakkan handphone ke kanan dan ke kiri. Sepertinya, dia sedang asyik bermain game. "Kenapa dia belum pulang? Pemain lain sudah pulang dari satu jam lalu," pikirku.

Mendadak aku kikuk tanpa alasan yang jelas. Malu, segan, atau entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan. Padahal, sudah beberapa kali melihat bahkan berpapasan. Di MOS (Masa Orientasi Siswa), saat dia sedang bermain basket (waktu itu aku dan Shaniar permisi ke kamar mandi karena sudah sangat bosan mendengar Pak Tarigan membahas kehebatan ilmuwan Marie Curie berulang-ulang), saat membeli pulpen ke kantin, dan mungkin masih ada momen lain. Tak ada yang spesial karena ya ... melihat biasa aja.

Kali ini, ragu aku lanjut melewati atau berbalik arah. Belum sempat memilih, dia bangkit dari sandaran lalu menoleh padaku.

Dia tersenyum.

Saat itulah, untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang bergerak tiba-tiba di hati ini. Aneh. Nafas pun seketika berat.

"Hei ..." sapanya sambil memasukkan handphone ke kantong celana.

Malah semakin kikuk aku disapa begitu. Apa aku harus menjawabnya? Apa itu sapaan untukku? Apa mungkin dia ingin menyapa bunga-bunga di taman? Tidak Mungkin, Drew!

"Halo, Kak," jawabku ragu.

"Semangat ya, Drew."

Lihat selengkapnya