"Kamu, tuh, ketua apa sih sebenarnya? Sekarang aja sok-sok nyuruh ini itu. Kemarin-kemarin kenapa kami nggak diwarning kalau di situ ada Ibu Silaban?" protesku pada ketua kelas, Wirja Sitepu. Dia menyuruhku dan Shaniar mewakili kelas di panitia natal yang beberapa bulan lagi akan dibentuk.
Wirja yang gosipnya pernah menaruh harapan pada Shaniar sejak kelas satu itu meringis malu. Dulu waktu masih kelas satu, ada nama Shaniar dengan gambar love di sampul belakang buku tulisnya. Teman sebangkunya menemukan tulisan itu lalu mengolok-olok mereka. Jadilah sekelas, kecuali aku, ikut mengolok-olok 'pasangan baru'. Shaniar sempat stress beberapa hari hingga mengurung diri di kelas. Aku menemani, menyemangati, serta sigap membelikan jajanan ke kantin.
"Maaf, Drew. Ibu Silaban sudah ngasih kode duluan. Maaf ya, Shan."
"Ck! Udah, ah. Kita keluar aja, Drew. Makin emosi yang ada kalau di sini terus," ucap Shaniar menarik tanganku.
Untuk mendinginkan bara api, kami pergi ke kantin lalu memesan bakso. Makanan favorit yang selalu ada di saat suka dan duka.
"Nggak seru si Wirja ini," ucap Shaniar kesal saat menunggu pesanan datang.
"Tau ih ... padahal kan gosipnya dia suka samamu. Kenapa dia tega, ya? "Aw!" teriakku mengusap-usap lengan.
"Enak dicubit? Mau lagi?"
"Sakit, Shan. Ih!"
Dia segera kabur saat tanganku siap membalas. David dan rombongannya tiba-tiba muncul dari pintu saat aku hendak mengejar. Mereka tertawa saling bertunjuk-tunjukan. Nyali seketika ciut sebab senyum si Lesung Pipi masih terbayang jelas.
Teringat kembali saat Shaniar membahas Adam beberapa hari lalu. Ternyata David sudah berteman dengan Adam sejak kelas satu. Oh oh, juga berteman dengan Bownie Aleassen, bule Inggris berandalan sekolah. Ada Dani Megantara si Albert Einstein SMA Dharma Bangsa -juga yang membimbing Shaniar di kelas ekskul musik-. OMG! Issano Livnich, langganan cover majalah bulanan sekolah (cuma foto-foto candid, sih). Demi spatulanya Spongebob, kembalikan waktu yang terbuang tanpa mengetahui ada sekelompok pangeran pencuci mata insan jomblowati seperti mereka.
"Apa karena mereka jarang menginjakkan kaki ke kantin Timur ini?" Pikirku dalam hati.
...
Kantin timur, menurut pengamatan terbatas antara aku dan Shaniar, adalah markas siswa biasa. Anak-anak populer jarang datang ke sini. Tidak pernah ada yang jadi pusat perhatian. Ada kantin di sebelah barat sana yang sering jadi tempat nongkrong anak-anak populer. Kantin Barat namanya.