Drew, maaf ya yg tadi siang
Aku gk sengaja ikut ketawa, Drew
Read
Pesan Shaniar sudah lima menit kubiarkan. Aku masih asyik menikmati Pop Mie sambil menimbang-nimbang apakah akan memaafkannya atau tidak. Jika ya, apakah dengan gratis atau dengan traktiran bakso selama satu bulan? Hahahaha. Terlalu kejam nggak, ya? Kalau diingat bagaimana pertemuan kami dulu, sepertinya memang sedikit kejam.
Aku dan Shaniar pertama kali bertemu di acara MOS. Kami terlambat di hari pembukaan dan hanya kami berdua saja. Adam mengomeli dengan wajah galak. Sebagai hukuman, kami disuruh maju ke atas panggung untuk menirukan gerakan berbagai macam hewan sambil diiringi musik.
Sebelum mulai, kami saling tersenyum 'let's get the party started!'. Goyangan maut diiringi musik dangdut yang sedang viral, Keong Racun, sukses mengundang sorak-sorai. Beberapa siswa ikut naik ke panggung bergoyang bersama, bahkan guru pembina MOS membawa beberapa lembar kertas pura-pura menyawer. Gerakan kami pun lama-lama keluar jalur, bergoyang acak ala penyanyi dangdut. Aku senyum-senyum sendiri setiap kali mengingat kejadian itu. Dari situlah terlihat persamaan kami yang sama-sama bodo amat. Bedanya, aku lebih tertutup dan Shaniar sangat welcome terhadap siapa pun. Dia tidak pernah memaksa bertanya ini itu dan aku pun menghargai dia apa adanya. Sungguh beruntung menemukan sahabat seperti Shaniar. Aku berharap dia juga sama.
Segera kubalas saja pesan sahabatku tersayang itu. Tidak seharusnya diri ini berlagak drama queen.
Ia, it's ok shan...
Aku jg minta maaf td trll drama queen hehe
Maaf jg td aku lgsg pulang ga nungguin
Send.
Thnaks udh dimaafin.