Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #9

Masih Marah?

"Ciee ... ada yang udah nggak sabar nih ketemu Ibu Gempal. Aw!"

Segera kujitak kepala Shaniar yang berani-beraninya memfitnah. Aku tidak mau menjadi bahan olokan lagi maka cepat-cepat kumasukkan buku ke dalam tas.

"Sakit, Drew ...."

"Mau ditambah?" Kucoba menjitak lagi.

"Eitt nggak kena hahahha ...." Dia menghindar secepat kilat.

"Udah ah. Aku buru-buru ini. Nanti kena marah lagi kalau terlambat. Bye-bye, Shan Shan." Aku melambai sambil berlari secepat mungkin. Latihan drama kali ini dipindah ke ruang teater agar ruang kelas tetap terjaga rapi.

"Semoga hari ini tidak ada olok-olokan lagi. Amin," ucapku pada diri sendiri di koridor kelas.

"Drewi!" Sebuah suara memanggil. Adam sedang berlari mendekat saat aku berbalik badan. "Hai, Nona Pesulap," sapanya begitu sampai.

Sedetik kemudian aku sadar arah sapaan itu, lalu lanjut berjalan tanpa menjawab.

"Masih marah? Sudahlah, Drew. Dani memang gitu orangnya. Kalau sudah kenal pasti akan terbiasa dengan sikapnya yang sarcasm itu."

Aku tetap mengunci mulut.

"Wah, beneran masih marah, nih?"

"Kak, pliss nggak usah dibahas lagi. Emosi aku."

"Ok, janji." Dia mengangkat jari kelingking. Kelingkingku menyambut setelah menatapnya tajam.

Tidak terasa, kami pun sudah sampai di depan ruangan teater. Bangunannya sedang-sedang saja. Ada taman melingkar dan kursi taman klasik terbuat dari besi di sebelah kiri dan kanan.

Oh iya, ada kabar menarik yang sempat aku baca di kolom gosip majalah sekolah. Bownie Aleassen pernah 'menembak' seorang wanita di bangku taman itu dan ditolak mentah-mentah. Mungkin karena malu, dia absen dua minggu sampai hampir di DO. Yang lebih menarik lagi, tidak ada yang tahu siapa perempuan itu, kecuali mungkin empat temannya yang lain. Tapi ini hanya gosip dari dari majalah sekolah saja. Kata Shaniar, gosip di majalah sekolah kebanyakan sumbernya dari kakak kelas yang sering nongkrong di kantin. No one knows perihal benar atau tidaknya.

...

Lihat selengkapnya