"Drewi," suara yang terdengar sedikit asing menyebut namaku.
Aku sedang duduk menatap jalanan kosong menunggu Adam di depan gerbang sekolah. Dia meninggalkan (lagi) ponsel yang sedang dicharger di ruang OSIS. Sebelumnya, dia mengajak pulang bersama setelah bertanya aku pulang dengan siapa. Tentu saja kujawab pulang sendiri karena Shaniar sudah duluan.
Pemilik suara itu ternyata adalah Dani Megantara. Kuabaikan saja kembali asik menatap jalanan kososng.
"Masih marah, Drew? Aku ke sini mau minta maaf untuk yang di kantin." Dia menyodorkan kotak berwarna coklat pekat berpita putih.
"Apa ini, Kak?" tanyaku menatap tak mengerti.
"Ini sebagai permintaan maaf. Kemarin ...."
Aku tidak memperdulikan ucapan Dani selanjutnya. Di belakangnya, ada David yang sedang berdiri jauh di seberang jalan sana melihat tanpa ekspresi. Tak lama kemudian, ia berbalik menjauh.
"Itu David? Ngapain dia?" tanya Dani tiba-tiba.