“Ciee ... ada yang udah nggak sabar mau ketemu Ibu Gempal. Aw!”
Segera kujitak kepala Shaniar yang berani-beraninya memfitnah. Aku tidak mau menjadi bahan olok-olokan Ibu Silaban lagi, makanya cepat-cepat kumasukkan buku ke dalam tas.
“Sakit, Drew ....”
“Mau ditambah?” Kucoba menjitak kepalanya lagi namun secepat kilat dia menghindar.
“Eitt nggak kena hahahha ....”
“Udah ah. Aku buru-buru ini. Nanti kena marah lagi sama Ibu Gempal kalau terlambat. Bye bye Shan Shan.” Aku melambaikan tangan sambil berlari keluar kelas menuju ruang ekskul teater. Latihan drama dipindahkan ke ruangan teater supaya tidak perlu repot membereskan meja dan kursi kelas.
“Semoga hari ini tidak ada olok-olokan lagi. Amin,” ucapku pada diri sendiri ketika sudah berada di koridor kelas.
“Drewi!” Sebuah suara memanggil dari belakang. Aku berbalik dan melihat Kak Adam sedang berlari ke arahku.
“Hai Kak Adam." Kusapa ceria.
“Hai juga nona pesulap.”
Aku bingung sejenak. Lalu begitu tersadar, sedetik kemudian wajahku berubah datar.
“Masih marah, ya? Sudahlah, Drew. Dani memang seperti itu orangnya. Kalau sudah kenal dengan baik, kamu pasti akan terbiasa dengan sikapnya yang sarcasm itu.”
Aku tetap diam dan membiarkannya berusaha mengikuti langkahku.
"Wah, ternyata beneran masih marah, nih?”
“Udah ah, Kak. Nggak usah dibahas lagi. Emosi aku.”
“Ok janji.” Dia mengacungkan jari kelingking. Kelingkingku menyambut setelah kutatap tajam dia.
Tidak terasa, kami pun sudah sampai di depan ruangan teater. Bangunannya tidak terlalu besar. Ada taman melingkar dan kursi taman klasik terbuat dari besi di sebelah kiri dan kanan bangunan.
Oh iya, ada kabar menarik yang tidak sengaja aku baca di kolom gosip majalah sekolah. Bownie Aleassen pernah 'menembak' seorang wanita di bangku taman itu dan ditolak mentah-mentah. Bahkan dia sampai hampir di DO dari sekolah karena absen selama 2 minggu semenjak itu. Mungkin karena malu atau apalah hingga harus beristirahat lama.
Bukan itu saja. Yang lebih menarik lagi, tidak ada yang tahu siapa perempuan yang berhasil membuatnya galau berlarut-larut. Kecuali mungkin keempat temannya yang lain. Tapi, ini hanya gosip dari dari majalah sekolah saja. Kata Shaniar, gosip di majalah sekolah kebanyakan sumbernya dari gosip kakak-kakak kelas yang sering nongkrong di kantin. No one knows perihal benar atau tidaknya.
Ibu Silaban sudah berdiri di depan pintu teater yang membuat kami mempercepat langkah. Ketika lewat di depannya, kuberikan senyum tulus sambil menyapa. Namun, dibalas dengan alis terangkat saja. Aku langsung menundukkan kepala, lebih mempercepat lagi langkah kaki, dan masuk ke dalam ruangan untuk mencari tempat duduk yang nyaman.
Saat mencari tempat yang pas, kulihat Kak David sedang mencoba baju hijau tua ala tentara Belanda jaman dahulu bersama teman-temannya yang lain. Dia lalu tersenyum padaku menampakkan lesung pipinya. Aku yang sedang tidak ingin terbawa suasana, tak membalas dan segera mengikuti Kak Adam yang sudah duluan mendapat tempat duduk. Kuajak dia berbicara untuk menenangkan debaran hati. Semoga saja apa yang aku lakukan sudah tepat karena belum tentu senyum itu ditujukan padaku. Iya kan? Bisa saja pada ibu Silaban yang ada di belakangku.