Moodku hampir saja memburuk. Bayangkan saja, ada tiga kuis berturut-turut dari tiga guru berbeda dalam satu hari. Padahal Shaniar sudah sangat penasaran cerita dari POV-ku. Belum sempat kuceritakan keputusan gegabah mengabaikan David, kami sudah harus secepat kilat mempelajari kisi-kisi.
"Udah baikan sama Dani?" Tanya Adam saat aku sedang memikirkan lagi tiga kuis itu.
Kami sedang istirahat menunggu sesi evaluasi dari Kak Ameila karena Ibu Silaban sedang rapat guru. Tidak ada ketegangan dan beban selama proses latihan dari awal sampai akhir. Free! Meskipun tak sepenuhnya free sebab si Lesung Pipi absen latihan. Ada urusan dengan Pak Situmorang, kepala administrasi sekolah, kata Adam.
"Emang kami pacaran makanya harus baikan?" ucapku tak terima.
"Emang harus pacaran dulu baru baikan?"
"Kak, aku udah capek sama naskah kita ini. Kalau Kakak lagi kurang kerjaan, tolong usilin orang lain atau tembok itu aja. Biar puas."
"Kalau sama David sudah baikan?"
"Kak Adam, tolong, ya. Kepalaku pusing ini."
Dia malah tertawa meledek, sementara rasaku benar-benar hampa. Semua yang ada di ruang teater terlihat datar sebab tak ada yang memicu debar jantung. Gugup hilang tanpa bekas. Semua serba terbalik. Saat David ada di sini, aku berusaha menghindar. Tiba saat eksistensinya alpa, diri ini malah gelisah.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Itu David sudah datang, Drew."
Refleks aku mengikuti arah telunjuk Adam. Di sana David dan Kak Ameila sedang berbicara serius. Tak lama kemudian ia berjalan menuju tempat duduk kami.
"Aku harus angkat kaki dari sini. Takut mengganggu," goda Adam. Aku membelalakkan mata sambil mencubit kakinya gemas.
Dering alarm berbunyi nyaring di dalam kepala saat melihat David sudah dekat. Kalau menghindar seperti kemarin-kemarin, pasti akan ada salah paham lagi. Kalau tetap di tempat, aku tidak yakin apakah bisa mengontrol gugup agar tidak terlihat jutek. Artinya, sama saja akan tambah salah paham.
"Hai, Drewi. Latihannya lancar?" tanyanya sambil duduk disampingku.
"Lancar ehm ...." Suara ini mendadak serak.
"Adam ke mana?"
"Ke sana," kutunjuk Adam yang sedang mengajari siswa lain.
Kami sama-sama terdiam sebentar setelahnya. Ia pun asyik membolak-balik naskah, sementara aku sedang berusaha meredam gugup.