“Ada apa Shan?” Tanyaku segera setelah bertemu Shaniar di bangku taman kelas.
“Mau ngasih ini.” Dia menyodorkan kotak berwarna coklat pekat dan berpita merah.
“Oh ini.”
“Udah tahu?”
“Udah.”
“Cieee ... aku nggak nyangka ternyata sahabatku yang cuek beibeh ini bisa ditembak dua cowo sekaligus.”
“Maksudnya?” Kedua alisku saling bertaut.
“Loh, bukannya udah ditembak Kak Dani kemarin? Trus kado ini kan, spesial dari Kak David. Bukannya tadi udah tahu? Berarti dia juga nembak kamu, dong. Iya, kan?” Kedua alisnya naik turun.
Aku mendengus pasrah. Inilah akibatnya jika terlambat curhat pada sahabat yang sok tahu dan terbiasa menggosip.
“Shan, biar kujelaskan secara singkat, padat, dan merayap. Tapi, cuma sekali aja karena aku ada janji sama seseorang.”
“Sama siapa?”
“Tentang itu nanti aku cerita lagi, ok?”
“Ok ok. Ya, sudah jelaskan. Cowok mana yang kau pilih jadi pacar pertamamu?”
Aku menahan nafas kesal bercampur gemas dan duduk disampingnya. Dia terdiam fokus dan mulai kuceritakan awal pertemuan dengan Kak David hingga peristiwa kotak kado itu.
...
“Jadi gitu, Shan. Intinya, kemarin itu Kak Dani cuma mengantar pulang. Itu aja. Dan satu lagi, kado ini setahuku dari Kak Dani. Kemarin aku lupa ambil karna dia buru-buru mengantar pulang. Titik. Sampai disitu. Aku mau pergi dulu karena sudah ditungguin. Bye.”
“Tunggu, Drew,” Shaniar menarik tanganku. “Ini bukan dari Kak Dani. Kado ini dari Kak David. Kemarin dia sampai menelepon berkali-kali menanyakan barang-barang kesukaanmu.”
“Masa, sih? Tapi, kemarin Kak Dani ngasih kado yang sama juga.”
“Serius. Ada fotonya dikirim Kak David.” Shaniar memperlihatkan foto kado persis seperti kado yang diberikan Kak Dani. Bedanya, di foto itu Kak David sedang memasang pita merah.
“Aish ... pusing aku." Kugaruk kepala yang tidak gatal.
"Ya, sudah. Kita bahas nanti aja. Katanya ada janji? Sana urus dulu."
"Iya, aku pergi dulu, Shan. Buru-buru. Bye.” Panik, aku pun lari membawa semua bingung dan pertanyaan. Apa pun itu harus ditunda dulu. Pulang sekolah kali ini, harus sempurna.
...
“Itu dia,” ucapku pelan setelah melihat kak David sedang menunggu di depan gerbang.
Aku melambatkan langkah, merapikan rambut, pakaian, dan melatih senyum termanis. Walau masih bingung dengan kado yang sudah ada dalam tasku, tapi lebih baik segala resah disingkirkan dulu. Siapa tahu dia, si Lesung Pipi, yang akan menceritakan sendiri nanti. Aku bahkan sampai lupa meminta kertas pembersih minyak wajah Shaniar. Ya, sudahlah, biar saja pertemuan pertama ini diiringi dengan wajah berminyak. Besok-besok aku harus ajak ibu beli perlengkapan anti minyak wajah.
“Hai, Kak,” sapaku dengan suara yang sudah diatur selembut mungkin.
“Hai, Drewi. Akhirnya datang juga. Aku kira kabur tadi.”
“Enggaklah, Kak. Maaf tadi agak lama, ada yang mau dibicarakan sama Shaniar.”
"Shaniar belum pulang? Dia marah nggak kamu pulang sama aku?"
"Aman, Kak. Tenang aja."
Anggukan kepalanya tenangkan gelisah. Lalu, ia mengeluarkan dua minuman milkshake cokelat dari belakang. Aku pun tersenyum. Sangat-sangat tersenyum. Pantas saja sedari tadi tangannya ke belakang. Dia benar-benar serius untuk mengajakku pulang bersama.
Langkah pertama kami sangat canggung. Di langkah-langkah berikutnya, beberapa kali kami tak sengaja berbicara bersamaan. Kadang bersamaan diam juga. Untung saja ada milkshake cokelat sebagai penengah tiap kali kami kehabisan topik.