Langkah ini pelan, kepala pun menunduk lesu. Di dalam ruang tetaer, Ibu Silaban sedang memberi pengarahan kepada kelompok pemeran warga pribumi. Aku terlambat beberapa menit karena harus membantu Ibu Tarigan memasukkan nilai kuis ke dalam buku nilai. Untung saja beliau sudah meminta izin. Kalau tidak, pasti jadi bulan-bulanan lagi.
Sementara di sisi lain David sedang asyik tertawa bersama teman sesama tentara. Entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi yang pasti ada denyut nyeri saat memandangnya. Aku pun berjalan lebih cepat sebab denyut ini semakin sesak bila tak segera dialihkan.
Ini kali pertama aku melihatnya lagi setelah pulang bersama waktu itu. Guru-guru sedang sibuk mempersiapkan pernak-pernik kepengurusan pensi sehingga latihan ditiadakan satu minggu penuh. Sudah selama itu juga cerita Shaniar menggantung di otakku. Sudah seminggu juga aku penasaran bagaimana akhir dari perasaan ini.
Shaniar sangat tahu moodku dengan tidak membahas lagi. Aku juga berusaha menghindar kalau-kalau berpapasan dengan David. Berdiam diri di kelas kalau tidak ada urusan yang penting, ke perpustakaan pun seniatnya saja. Untunglah Shaniar berlapang dada membelikan jajanan tiap istirahat. Bila sudah sangat bosan, aku duduk di taman kelas atau teras Lab IPA yang dekat dari kelas. Si Lesung Pipi jurusan IPS maka kecil kemungkinan papasan di sana. Koleksi novel teenlit juga salah satu penghapus bosan sekaligus mencari penguatan, walau kadang-kadang malah iri dengan cerita romansa para tokohnya. Setidaknya, waktu berlalu tanpa terasa.
Kadang, dengan beralaskan tas kutidurkan kepala di atas meja. Kadang juga tak menimpali obrolan Shaniar, hanya memandang saja sementara isi kepala berkecamuk. Energi pun turun drastis. Jika dihitung berapa besar energi yang habis karena cemburu, mungkin sama besarnya dengan energi yang terisi saat jatuh cinta. Mungkin malah lebih banyak sebab untuk ber-aktivitas normal saja rasanya ingin cepat-cepat selesai.
...
Adam kali ini absen latihan. Aku sudah mengedarkan pandangan beberapa kali namun batang hidungnya tak kelihatan. Sambil menunggu giliran, aku pun bermain game di handphone.
"Sendirian aja, Drew?" David tiba-tiba sudah ada di depanku.
"Iya, Kak," jawabku singkat saat dia sudah duduk di samping. Entah kenapa suara yang kemarin-kemarin terdengar sangat merdu itu, kini berubah menyebalkan. Aku lanjut bermain game sebab energi 'tuk bermanis-manis ria sudah lenyap.
"Kamu dulu di kelas 10-A, bukan?"
Hanya senyum paksa bersama anggukan kepala yang bisa kuberikan padanya.
"Kenal Agitha?"
Aktivitasku terhenti. "Agitha Aristia, Kak?" tanyaku berusaha lembut.
Dia mengangguk.
"Iya. Kakak kenal? Pacar Kakak, ya?" Plak! Ingin aku menampar mulut sembrono ini.