“Shan, kayanya aku memang jatuh cintalah.” Senyumanku terhenti saat seonggok daging menempel di keningku.
“Waaah pantaslah. Keningmu pun panas. Harus cepat-cepat ke rumah sakit jiwa ini. Jangan lama-lama. Makin parah nanti.”
“Shaniar, aku serius.”
“Ia, aku juga serius. Nanti kita cari rumah sakit jiwa yang pas. Kalau bisa yang dekat rumahku, biar bisa kujenguk tiap hari.”
Aku berhenti dan melotot. Dia malah dengan santainya menyeruput pop ice. Melihat ekspresiku yang memuakkan itu, dia pun berhenti menyeruput. “Drew, ini sudah ke lima kalinya kau bilang, aku jatuh cinta aku jatuh cinta,” protesnya memelas.
“Belum termasuk yang ada di dalam hatiku kan, Shan?”
“Kau itu masih 16 tahun. Masih kecil. Belum pantas patah hati,” ucapnya membuatku menaikkan alis.
“Sakit hati?!”
“Ck! Aku mau cerita semua info yang sudah kudapat. Mendingan kita ke tempat biasa aja supaya ceritanya puas.”
“Ok, siap bos.”
Kami pun berbelok ke sebuah gang yang berlawanan arah ke halte.
Kira-kira lima menit kemudian kami sampai. Duduk di bawah pohon rimbun teduh, sejenak penasaran menghilang. Sudah 2 tahun tempat ini jadi tempat favorit kami curhat di luar sekolah. Sebuah taman bermain sekolah PAUD tidak jauh dari halte. Meski tidak setiap hari datang, tempat ini selalu berhasil meredam panas apa pun yang sedang kami rasakan. Suasana lumayan sepi karena murid-murid PAUD sudah pulang. Hanya ada beberapa murid sekolah lain bermain-main di ayunan dan jungkat-jungkit.
“Ok. Sekarang kita sudah di sini. Apa info yang kamu dapat?” tanyaku tak sabar.
“Menurut info yang kudapat, rumah kak David ada di jalan Nauli gang Raya No. 45. Dia anak kedua dari dua bersaudara. Dia punya kakak perempuan dan ....”
“Stop! Stop! Stop! Shan, bisa langsung to the point aja, nggak?”
“Bukannya itu juga point? Kan, kau suka sama dia, masa nggak mau tau tentang riwayat hidupnya?”
“Soal itu ceritakan nanti aja. Aku cuma penasaran dengan kata-katamu tadi yang bilang belum pantas untuk sakit hati. Sakit hati kenapa?”
“Ok, kalau gitu kita to the point aja. Gini Drew ....”