Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #18

Aku Tunggu di Gerbang

“Drew, tadi pagi di gerbang sekolah, Kak David minta nomor handphonemu,” ucap Shaniar tiba-tiba saat kami sedang mengerjakan tugas Matematika. Pak Simorangkir, guru matematika, tidak hadir karena sakit. Tak ada guru penggantinya dan jadinya kami disuruh mengerjakan soal-soal yang telah beliau persiapkan. Di tengah riuh suasana kelas, aku bisa mendengar sangat jelas ucapan Shaniar.

“Memangnya kalian belum tukar nomor handphone, ya?”

Aku menggelengkan kepala.

“Kok, bisa? Bukannya kalian udah pulang sama-sama? Masa nggak ada satupun dari kalian yang minta nomor handphone masing-masing? Aneh kalilah kalian ini.”

“Kalau aku karna gengsilah. Nanti dibilang GR lagi sama dia.”

“Gengsa gengsi. Cinta tapi kok gengsi. Itu juga pangeranmu itu, masa minta nomormu ke aku. Kenapa nggak minta langsung ke orangnya aja?”

“Trus, kamu kasih nggak, Shan?” tanyaku menyelidik.

“Tadinya mau langsung kukasih. Tanpa aku tanya juga kau pasti langsung setuju.”

“Trus?”

“Tapi, sebagai sahabatmu, aku ingin menaikkan harga dirimulah. Bisa dibilang sedikit jual mahal, gitu.”

“Trus, dikasih nggak?” tanyaku semakin tak sabar.

“Ya, enggaklah, Drewi. Jangan dululah. Nanti aja. Biarkan dia berusaha mencari sendiri dulu. Biar dia penasaran, trus ujung-ujungnya minta langsung ke orangnyalah. Biar lebih romantis,” jawab Shaniar sambil mempraktekkan gaya Cherrybelle -telapak tangan menopang wajah dan ekspresi dibuat seimut mungkin.

Aku mual melihatnya. Kepala Shaniar pun kujitak keras. Akhirnya, ada moment yang tepat untuk menjitak kepalanya. Dia berteriak kesakitan dan aku tertawa penuh kemenangan.

“Lagian, sok imut.”

“Emang imut, tau.”

“Nih, selesaikan tugas dulu baru gossip,” Kuangkat buku matematikanya dan meletakkan persis ke atas buku tulisnya.

Ck! Memang nggak ada seru-serunya kalian berdua ini," gerutunya lalu kami kembali fokus menyelesaikan tugas.


“Eh, Shan,” panggilku beberapa menit kemudian.

“Hm.”

“Menurutmu, ada keperluan apa Kak David minta nomorku?”

Shaniar yang tadinya masih fokus, kini membelalakkan mata padaku. “Astagaaa, polos kalilah kau ini, Drewi," ucapnya setengah berteriak.

“Polos gimana maksudnya?”

Lihat selengkapnya