Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #18

Tanpa Kata

Debu beterbangan menyala kelap-kelip indah saat terkena sinar matahari dari pintu dan jendela teater. Setiap kali sapu mengesek lantai, boom! Debu bertambah banyak. Kelap-kelip pun semakin ria. Meski Briana terbatuk karenanya, tak pecah konsentrasiku menyaksikan tarian debu berlatar cahaya matahari. Adam, aku, dan dua orang lainnya pulang sedikit lebih lama karena harus membersihkan ruang teater. Semua peserta drama memang sudah di bagi beberapa kelompok untuk bergiliran membereskan ruangan setelah latihan.

Tidak hanya tarian debu yang jadi penghibur. Aku merapikan beberapa kursi diiringi dendang bahagia detak jantung yang sekaligus jadi soundtrack pengiring tarian debu. Sementara di dalam kepala, ucapan Shaniar tentang alasan David meminta nomorku bergema merdu. Hingga hati ini pun menyimpulkan tanpa ragu bahwa dia juga pasti memiliki rasa yang sama.

Namun, sedetik kemudian logika menyerang dan membuyarkan tarian debu.

"Kalau pun meminta nomormu, apa sudah pasti akan dihubungi?" tukasnya keras bagai menodong pedang tepat di jantung.

"Bisa saja nomormu berakhir di daftar kontak saja. Kamu tahulah ... pasti banyak yang suka sama dia, bukan hanya kamu, Drewi. Pasti banyak orang yang diperlakukan sama. Memangnya siapa kamu merasa sangat spesial?" Pedang itu ia tekan hingga tenggelam setengah, aku pun megap-megap.

"Sadarlah, Drewi. Kalian itu baru kenal. Agitha saja sudah bertahun-tahun bersamanya. Apalah arti hubungan kalian yang masih mentah itu. Sebelum terlalu jauh, coba kamu tanya diri sendiri, memangnya sudah pasti dia akan meminta nomormu nanti? Jangan-jangan paling hanya minum milkshake dan mengobrol ngalor-ngidul. Jangan langsung GR dulu, toh, Nduk."

Jantung ini dahsyat menyemburkan darah saat sang logika berulang kali menarik dan menusukkan pedang. Susah payah aku fokus agar tetap terlihat normal di dunia nyata. Akhirnya, kujalani sesi beres-beres itu dengan menarik nafas berat berulang kali.

...

Masih dengan isi kepala gaduh riuh, tidak terasa lapangan sekolah pun sudah kusebrangi. Waktu otomatis melambat begitu melihat David menyambut dengan milkshake lagi, ditambah dengan service senyumnya yang masih saja menawan.

"Adam di mana?" tanyanya setelah aku sampai.

"Ke ruang OSIS, Kak. Katanya ada kerjaan. Aku disuruh pulang duluan."

"Kamu kenapa, Drew? Sakit? Capek?"

"Enggak. Sehat-sehat aja."

"Yakin?" Tangannya menempel tanpa izin di keningku dan duarrr!!! Terhempaslah semua energi. Kali ini bukan karena cemburu tapi karena cinta.

"Normal. Nggak panas."

"Memang normal, Kak. Aku nggak sakit," protesku dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Dia malah tertawa. "Peace, Drew. Aku cuma bercanda," ucapnya sukses mengerjai. Cairlah suasana dan tenanglah badai gelisah hati. Lagi-lagi dia berhasil melakukannya. Menenangkan dan membuatku nyaman.

David menarik tanganku agar berjalan di sisi kiri seperti biasa, lalu menyisipkan kue mini brownies ke tanganku. "Muffinnya habis. Maaf, ya," ujarnya merasa bersalah.

"Justru aku yang harusnya minta maaf karena belum pernah traktir. Besok-besok harus gantian aku yang traktir."

"Nggak usah. Biar aku aja. Aku yang mengajak pulang, berarti aku yang traktir."

"Tapi aku diajari sama ibukku, nggak boleh bikin orang repot. Justru harus sering-sering membantu orang lain."

"Aku nggak pernah merasa direpotkan sama kamu. Justru senang bisa traktir kamu makan, minum ... kalau perlu, kamu mau jalan ke mana biar aku yang traktir."

Senyumku mengembang penuh mendengarnya. "Makasih banyak, Kak, tapi aku tetap merasa nggak enak. Pokoknya kapan-kapan aku yang traktir." Niatku tetap teguh.

Lihat selengkapnya