Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #19

Tanpa Kata

Debu beterbangan menyala kelap kelip indah, saat terkena sinar matahari dari pintu dan jendela teater. Setiap kali sapu mengesek lantai dan boom! Debu semakin banyak. Kelap-kelip pun semakin indah. Meski Briana terbatuk karenanya, tak pecah konsentrasiku menyaksikan tarian debu berlatar cahaya matahari. Kak Adam, aku dan dua orang lainnya pulang latihan sedikit lebih lama karna harus membereskan peralatan-peralatan drama. Semua peserta drama memang sudah di bagi beberapa kelompok dan bergiliran membereskan ruangan setelah latihan.

Tidak hanya tarian debu yang jadi penghibur. Aku merapikan beberapa kursi bersama detak jantung tak tentu. Detak jantung itulah yang jadi soundtrack pengiring tarian debu. Sementara di dalam kepala, nasehat Shaniar bercampur dengan khayalan sebentar lagi Kak David akan meminta nomorku. Hingga hati ini pun menyimpulkan tanpa ragu, bahwa dia juga pasti memiliki rasa yang sama.

Namun, sedetik kemudian logika menyerang semua dan memisahkan pergulatan.

“Kalau pun dia meminta nomormu, apa sudah pasti dia akan menghubungi?” tembaknya sangat keras. Sang logika hunuskan pedang tepat di jantung.

“Bisa saja nomormu berakhir jadi koleksi di daftar kontak saja. Kamu taulah ... yang suka sama dia pasti bukan hanya kamu, Drewi. Pasti banyak orang yang dia perlakukan sama. Memangnya siapa kau merasa sangat spesial?” 

“Sadarlah, Drewi. Kalian baru berkenalan. Agitha saja sudah bertahun-tahun bersamanya. Apalah arti hubungan kalian yang masih mentah itu. Sebelum terlalu jauh, coba kau tanya diri sendiri. Memangnya sudah pasti dia akan meminta nomormu nanti? Jangan-jangan paling hanya minum milkshake dan mengobrol ngalur-ngidul. Jangan langsung GR dulu, toh, nduk.”

Jantungku bocor menyemburkan darah, sesaat setelah sang logika beberapa kali menarik dan menusukkan pedang. Susah payah aku fokus dan tenang agar tetap terlihat normal di depan Kak Adam dan yang lainnya. Kujalani sesi beres-beres itu dengan menarik nafas dalam berkali-kali.

Masih dengan isi kepala gaduh riuh, tidak terasa lapangan sekolah pun sudah kusebrangi. Waktu otomatis melambat begitu melihat Kak David menyambut dengan milkshake lagi. Ditambah dengan service senyumnya yang masih saja menawan, meski tetap tak bisa tenangkan gelisah.

“Adam di mana?” Tanyanya setelah aku sampai di hadapannya.

“Ke ruang OSIS, Kak. Katanya ada kerjaan. Aku disuruh pulang duluan.” 

“Kamu kenapa, Drew? Sakit? Capek?”

“Enggak. Sehat-sehat aja, kak”

“Tapi, wajahmu pucat. Kamu sakit?” Tangannya menempel tanpa izin di keningku dan duarrr!!! Terhempaslah semua energi. Kali ini bukan karna cemburu, tapi karna cinta.

“Normal. Nggak panas.”

“Memang normal, Kak. Aku nggak sakit,” nadaku protes tak terima.

Kak David tertawa. “Peace, Drew. Aku cuma becanda.” Dia sukses mengerjaiku.

Cairlah suasana dan tenanglah badai gelisah di hati. Lagi-lagi dia berhasil melakukannya.

Kak David menarik tanganku agar berjalan di sisi kirinya seperti biasa. Lalu, dia menyisipkan kue mini brownies ke tanganku. “Muffinnya sudah habis. Maaf, ya," ujarnya merasa bersalah.

“Justru aku yang harusnya minta maaf, Kak. Aku belum pernah traktir. Besok-besok harus gantian aku yang traktir.”

“Nggak usah, Drew. Biar aku aja. Aku yang mengajak, berarti aku yang traktir.”

“Tapi, aku diajari sama ibukku nggak boleh bikin orang repot. Justru harus sering-sering bantu orang lain, gitu.”

“Aku nggak merasa repot. Justru aku senang traktir kamu makan, minum ... kalau perlu kamu mau jalan ke mana pun biar aku yang traktir.”

Senyumku mengembang penuh mendengarnya. “Makasih banyak, Kak. Tapi, aku tetap merasa nggak enak. Pokoknya kapan-kapan aku yang traktir.” Niatku tetap teguh.

Lihat selengkapnya