Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #20

Orang Favorit di Tempat Favorit

"Drewiiii," teriak Kak Mira tertahan, lebih seperti berbisik kencang ketika melihatku masuk ke perpustakaan. Tangannya melambai-lambai di udara, senyumku pun merekah.

Hari itu, tepat minggu ke dua, buku-buku baru datang. Kami berdua harus memulai ritual sakral. Membuka box besar, mengeluarkan buku-buku bercahaya indah dari dalam, lalu memilah-milah sesuai tema. Hingga sampailah ke puncak ritual, memilih buku-buku untuk kami baca sendiri. Buku-buku terbitan baru untuk kami baca duluan sebelum memajang ke rak buku. Jika buku-buku baru itu tidak sempat kami baca semua, ada box rahasia tempat menyimpannya. Box rahasia yang hanya kami berdua saja yang tahu. Hak istimewa inilah yang kudapat sebagai salah satu penghuni tetap perpustakaan.

Wait! Kali ini tidak hanya kami berdua saja. Ada satu orang lagi yang sudah dengan lancangnya membuka kardus-kardus besar, yang harusnya jadi tugas istimewaku. Seorang siswa laki-laki bertopi hitam dengan nama sebuah penerbit besar tertulis di depannya. Topi itu sudah pasti salah satu bonus merchandise yang seharusnya jadi milikku atau Kak Mira. Kami biasanya suit Batu Gunting Kertas untuk menentukan siapa yang berhak memiliki.

"David, kenalin ini Drewi. Dia asisten istimewa yang kakak ceritakan tadi."

Tercekat dadaku seketika. David Ginandjar Bara si Lesung Pipi, dialah siswa laki-laki itu.

"Hai, Drew."

Sapaannya seketika membuatku teringat SMS yang belum kubaca. Aku bangun kesiangan dan harus membersihkan kamar mandi, karena pintu gerbang sudah ditutup saat baru saja turun dari angkot. Dia hadir di saat yang tepat untuk mengobati semua kelelahan, walau dia jugalah pemicu masalah itu muncul.

"Eitt! Kalian sudah saling kenal, Drew?"

"Sudah, Kak. Kami ikut drama di pensi nanti."

"Ok, baguslah, menghemat waktu. Aku mau ke ruangan kepala sekolah dulu minta tandatangan serah terima. Kalian bisa kakak tinggal, kan?"

"Siap 86, Kak."

"Bisa, Kak Mira," ucapku menimpali jawaban David. Lalu, Kak Mira menarik tanganku ke meja resepsionis dan membisikkan di mana letak kunci box rahasia kami. Dia masih sempat-sempatnya menggodaku dan David sebelum keluar dari perpustakaan.

...

"Nggak biasanya Kakak ke sini," ucapku sambil berjalan ke arah kardus yang masih tersegel setelah Kak Mira pergi.

"Kata Shaniar, kamu suka ke sini kalau lagi nggak sama dia."

"Oh, gitu," balasku singkat, sibuk membuka segel kardus.

"Tadi aku ke kantin tapi cuma ada Shaniar. Aku tanya kamu ada di mana, katanya pasti di perpustakaan ini. Tapi setelah ke sini, kamu juga nggak ada. Kata Kak Mira sebentar lagi juga kamu datang, jadi aku bantu-bantu aja sambil nunggu."

Aku pun mengangguk mengerti. Sebelumnya, aku dipanggil Ibu Gempal untuk mengukur baju keperluan drama. Mungkin itu yang membuatnya jadi menunggu.

"Trus?" tanyaku lagi.

"Trus, akhirnya kamu sudah datang dan kita sama-sama membantu Kak Mira membereskan buku-buku baru ini. Tamat."

"Trus?" Kutatap dia dalam diam penuh selidik sebab alasan utamanya masih belum terlihat.

Dia pun berhenti sejenak, meletakkan buku, dan menatapku sambil berkata, "Trus, kenapa SMSku belum dibalas?"

Lihat selengkapnya