Motor melaju kencang membawaku dan David membelah jalanan yang mulai ramai.
Shaniar dan Adam juga berboncengan mengikuti di belakang. Meski angin melewati kulit dengan ketat, tapi dada dan pipi ini masih terasa panas. Sebab sebelum menaiki motor, David lagi-lagi memuji penampilanku yang sudah berganti dengan pakaian kasual. Katanya, apa pun yang kupakai terlihat cocok dan membuatku bertambah cantik. Dengan tegas kusanggah semuanya, meski bunga-bunga di hati bersemi tak terkendali.
Sesuai rencana sebelumnya, kami pergi berkumpul menuju rumah Dani yang ternyata dekat dari sekolah. Jadi, di seberang gerbang sekolah ada tiga arah jalan. Ke arah lurus atau persis di seberang gerbang, ada tiang plang nama jalan berwarna hijau menancap di sisi kanan. Di seberang tiang adalah Gereja Karo. Sebuah rumah kayu minimalis modern berwarna kuning lembut dengan garis-garis coklat senada, terletak di samping tembok lapangan gereja. Itulah rumah Dani.
Aku dan Shaniar baru tahu kalau rumahnya sedekat itu. Bangunannya lumayan besar untuk ukuran rumah di kampung. Pendopo kecil di samping kiri menambah suasana megah dengan rumput hijau merata sampai ke halaman depan. Beberapa ratus meter dari sana ada pertigaan lagi. Satu jalan ke arah kiri adalah jalan menuju PAUD Bunda Pertiwi. Tempat di mana Shaniar tempo hari menceritakan tentang hubungan David dan Agitha.
"Dani di lapangan sekolah," teriak seorang pria yang sekilas wajahnya mirip Dani, hanya saja dia lebih tinggi, jangkung, dan dewasa. Kami pun berpamitan pergi menuju sekolah.
Di lapangan sekolah, Dani, Bownie, dan Issano sedang bermain sepeda mengitari lapangan. Mereka pun mengikuti aku dan Shaniar ke teras aula, sementara Adam dan David memarkir motor.
"Wuhuuu ... ada yang mau double date. "
"Waah ... kalah si Ownie. Nggak bawa siapa-sapa dia."
"Nggak ngaca si Sano ini. At least aku pernah pacaran. Memangnya kau, jomblo menahun."
Bownie dan Issano saling menyindir satu sama lain membuat suasana jadi ribut. Aku dan Shaniar saling tersenyum canggung sebab tak menyangka bisa bertemu mereka sekaligus dalam satu waktu. Shaniar memegang tanganku kencang untuk meredam bom yang meledak di dalam hati berkali-kali.
Kesal karena mereka berdua tak henti berdebat, Dani pergi mendekati Adam dan David yang terlihat serius berbincang. Entah apa yang dibicarakan tapi akhirnya mereka sibuk membongkar tas hitam yang dibawa oleh Dani. Setelah semua lengkap, Adam pun memanggil kami.
"Dan, titip Drewi, ya."
"Siap, Mamen. Tenang aja. Pasti aman."
"Hanya Drewi aja yang dititip, Dave? Shaniar?"