Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #24

Hujan Utusan Semesta

Angin memainkan helai rambut yang tak tertutup helm. Sementara tanganku memeluk erat pinggang si Lesung Pipi. Kalau saja alam mendukung, mungkin ini akan terasa romantis. Namun David terpaksa menambah laju motor saat langit bergeluduk beberapa menit setelah keluar dari gerbang. Langit perlahan-lahan gelap di setiap menit. Perjalanan bahkan belum sampai setengahnya.

Sepanjang perjalanan kami diam saja. Aku sibuk berharap agar hujan batal turun dan mendukung rencana kami tetap berjalan lancar. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain bersepeda berdua dengannya di TWI, pikirku. Akan tetapi, semesta seakan tidak ingin melihat kami bahagia. Apa semesta cemburu dan ingin mempermainkan kami? Apa yang harus dicemburui jika dia yang punya segalanya? Ada-ada saja semesta ini.

Tatkala tetes hujan tipis-tipis jatuh dari langit, laju motor seketika melambat lalu berhenti di pinggir jalan. Tanganku otomatis melonggar tapi David mencegahnya. Dia menoleh padaku, membuka kaca helm, dan bertanya apakah ingin melanjutkan perjalanan atau berteduh dulu. Aku pun menyarankan berteduh saja. Dia mengeratkan lagi tanganku di pinggangnya sebelum kembali melajukan motor. Tentu saja sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri dibalik kaca helm.

...


"Maaf, ya, Drew. Sepedaannya batal," ucapnya setelah beberapa kali terlihat serius mengetik sesuatu di handphone.

"Iya, nggak apa-apa, Kak. Bahaya juga kalau kita teruskan." Aku berusaha menenangkannya yang sedari tadi gelisah.

Lihat selengkapnya