Tetes-tetes air masih betah menempel di patung Pahlawan Nasional TB Simatupang dan patung Komponis Nasional Liberty Manik. Dua patung pahlawan asli Sidikalang berwarna emas itu berdiri gagah di pelataran Letter S, menunjuk pemandangan kota Sumbul di kejauhan. Sebagian air juga menetes ke podium patung menambah sejuk suasana sehabis hujan.
Warung kecil di dalam mobil pick up hitam yang sudah dimodifikasi berada di salah satu sudut pelataran. Pemilik warung terkantuk-kantuk berselimut hijau gelap tebal. Sebelum naik, David membeli donat couple dari warung itu kemudian memberikan padaku. Lagi-lagi senyum ini melebar, apalagi saat pemilik warung menggoda kami.
Pemandangan Kota Sumbul dan Desa Tiga Baru dari atas bukit Letter S terpampang begitu indah walau sedikit tertutup kabut. Kami duduk di bawah saung beton memandang kagum hamparan hutan yang hijau, sawah, dan ladang luas. Jalan lurus panjang membelah hamparan maka megah ciptaan Tuhan itu. Di bukit ini jugalah biasanya tempat insan muda-mudi yang sedang jatuh cinta berbincang setelah atau sebelum masuk ke TWI.
Di samping bukit, ada pintu masuk belakang TWI dengan gapura besar melengkung di sisi atas. Taman Wisata Iman Dairi terukir indah di sana dengan patung cicak menempel di sisi kiri dan kanan tulisan. Pohon-pohon hijau tinggi rimbun menyambut setelah melewati gapura, begitu juga di sekitar pelataran patung monumen.
"Kalau nggak hujan seru ini main sepedaan rame-rame."
"Iya, Kak. Padahal tadi aku mau ke bukit Golgota. Biasanya aku suka foto di sana sekalian berdoa di ruang doa.
"Sama. Aku juga suka berdoa di sana."
"Di sana suasananya beda, padahal ruang doa lain masih banyak."
"Iya, lebih tenang. Ruang doa di dekat taman bermain juga bagus."
Aku berpikir sebentar mengingat-ingat tempat yang dia maksud. "Yang dekat kebun binatang mini?" tanyaku.
Dia mengangguk.
"T'rus, Kakak suka tempat yang mana lagi?"
"Gerbang Bali juga termasuk bagus. Kami suka foto-foto di sana. Mirip seperti di Bali kalau foto di depan gerbangnya yang besar tinggi itu," tangannya memeragakan di udara seolah gerbang besar itu ada di sana. Aku tertawa melihat caranya bercerita.
"Kalau foto-foto ... aku sukanya ke Air Terjun Lae Pandaroh atau ke goa Patung bunda Maria," ucapku mantap.
"Waaah, kalau di situ memang wajib foto. Semua orang yang datang ke sini pasti punya foto di goa itu."
"Betul. Di Bukit Golgota apalagi."
"Di Bahtera Nuh juga."