Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #26

Setengah Batak

Gombal usil masih terucap saat dia naik tangga sembari menggenggam hati-hati dua Pop Mie kuah. Jas hujan menutupi tubuhnya dibeli dari warung kala gerimis kian deras. Satu untukku di dalam kantong plastik hitam tergantung di lengan, menyembul keluar bersama beberapa cemilan lain.

"Drew, berarti kamu lebih memilih Ownie si Buaya Darat itu?" tanyanya lagi saat kami tengah asyik menikmati makanan.

"Dibanding siapa dulu. Lagian, cowok ganteng populer gitu masa disia-siakan?"

"Drew ..." panggilnya serius. "Aku dulu ... pernah hampir putus sekolah karena nggak mau ke mana-mana. Tidur seharian di rumah, nggak ada motivasi atau semangat. Hanya menunggu pagi dan malam datang bergantian. Persis seperti itu hampir setiap hari." Dia lalu bergeser menghadapku dengan ke dua kaki bersila di atas bangku beton.

"Beberapa kali aku pindah sekolah karena sering absen. Rekor paling lama bertahan ya, di sini, di SMA Dharma Bangsa. Kami pindah ke Sidikalang setelah lulus SMP. Aku cepat beradaptasi karena cuacanya hampir sama dengan Bandung. Selain itu, aku juga menemukan sahabat-sahabatku di sini."

Aku menahan diri agar dia leluasa bercerita tentang dirinya. Namun jeda yang lumayan panjang akhirnya membuatku berkata, "Makasih ya, Kak, udah mau cerita. Berarti Kakak asli Bandung?" tanyaku pura-pura belum tahu untuk menetralisir suasana. Tak akan kubiarkan wajah manis itu bersedih.

"Kita sama. Setengah Batak. Mamaku orang Pakpak yang lahir dan besar di Sidikalang. Papaku orang Sunda, asli orang Bandung."

"Ooo ... pantes Kakak juga nggak ada marga."

"Bukan cuma aku. Dani juga setengah Batak. Ayah dari Jogja, ibu asli Sidikalang. Kata Dani mereka bertemu di Jakarta, nikah, t'rus pindah ke Sidikalang. Adam asli Jawa, dari Malang pindah ke sini karena orang tuanya dokter PNS yang ditugaskan ke Rumah Sakit Umum Sidikalang. Issano setengah Pakpak dari ibu, setengah Rusia dari ayahnya yang kerja di Dubai."

"Kalau Kak Bownie?"

"Bownie si Buaya Darat Dharma Bangsa setengah Inggris dari ayah, setengah Karo dari ibu."

"Ooh gitu. Berarti ... kalau orang tua di Bandung, Kakak di sini sama siapa?"

"Papa yang masih tinggal di Bandung. Aku di sini berdua sama mama. Biasanya aku panggil Bunda karena dia nggak mau dipanggil Mama. Terlalu mainstream katanya."

David menyeruput kuah mie lalu kembali bercerita. "Orang tuaku sudah bercerai, Drew. Waktu itu aku sekitar umur 12 tahun. Aku nggak tahu persis kenapa mereka bercerai dan ... nggak mau tahu juga. Biarlah itu jadi urusan mereka. Sebenarnya ... menurutku mereka masih saling sayang tapi gengsi aja ngomongnya. Masih suka teleponan juga seperti orang pacaran senyum-senyum sendiri. Banyak bukti lain kalau mereka itu masih saling sayang." Dia lalu mengambil bakwan dan mencampur ke gelas Pop Mie.

Sambil mengaduk-ngaduk, dia lanjut bercerita. "Karena aku sudah bosan dengan sekolah, bosan harus beradaptasi, bosan mengulang pelajaran lagi, akhirnya aku mogok sekolah. Beberapa bulan sebelum lulus SMP, Bunda membawaku ke Psikolog."

"Psikolog? Kakak ke Psikolog?" Tanyaku spontan.

"Iya. Sampai sekarang masih rutin konsultasi lewat Skype. Beliau juga yang menyarankan mereka rujuk. Tahun lalu mereka sepakat mau tinggal bersama lagi. Tapi karena Bunda sudah ada kontrak kerja di sini dan aku masih di pertengahan tahun sekolahnya, akhirnya ditunda nunggu lulus dulu. Drew, Pop Mi-mu sudah dingin. Habiskan dulu."

Aku terkesiap saat dia menyebut namaku. Ada percik gelisah saat tahu mereka akan pindah lagi ke Bandung, namun ragu menanggapi sebab masih banyak yang ingin aku tahu tentang dirinya. "Udah kenyang, Kak," ujarku tak ingin berlama-lama menjeda suasana. 

"Sini aku yang makan."

"Tapi ini ... bekasku."

"Nggak masalah. Sini." Wadah Pop Mie berpindah tangan.

Lihat selengkapnya