Aku punya turunan darah rendah dari Ibuku. Sekali sebulan kami berdua makan sop atau gulai kambing spesial masakan ayah. Ditambah gelisah dan rasa kesal pada Agitha, berpadu dengan angin dingin menusuk kulit, aku yakin itulah penyebab drama 'perpingsanan' terjadi. Tapi kata ibuku, menurut dokter waktu itu aku terkena serangan dingin mendadak.
Sudah dua hari aku hanya di rumah saja memakai baju, celana, selimut, syal, beanie rajut, dan kaos kaki yang semuanya tebal. Hujan yang datang hampir setiap hari membuat suhu rumah jadi dingin menghambat proses pemulihan. Selama itu juga aku banyak menghabiskan waktu dengan tidur di ruang tamu sambil nonton TV. Selama itu juga tak ada kabar dari David.
Update dari Shaniar juga belum ada yang terbaru. Di pembaruan terakhir ia mengatakan, sehari setelah kejadian itu David datang ke kelas menitip coklat sebagai permintaan maaf. Coklat itu kini bertengger manis di kulkas belum tersentuh sedikit pun. Kegelisahan dalam dada masih belum tuntas. Coklat itu akan kumakan setelah semua jelas.
Menurut Shaniar juga, setelah peristiwa itu, David dan yang lainnya seperti menjaga jarak. Termasuk Agitha yang mengubah arah saat mereka berpapasan. Tidak sampai di situ, nomor si Lesung Pipi pun non-aktif, 'panggilan gagal', dan tak ada balasan pesan. Dua hari bagai 2000 tahun rasanya. Aku ingin segera masuk sekolah dan menemui David untuk bertanya mengapa menghindar. Kalau pun karena merasa bersalah, well ... akulah yang setuju melanjutkan perjalanan, maka akulah yang seharusnya bersalah. Aku jugalah yang seharusnya memberikan coklat untuknya.
"Buk, besok ...."
"Kalau kamu sudah merasa sehat, silahkan, Drewi," ucap Ibu dingin seakan tahu apa yang sedang kupikirkan.
Aku segera bangkit mengambil tempat di sampingnya, lalu ikut melipat baju sambil menonton TV.
"Tapi kalau kamu masih ketemu sama si Dani Dani itu lagi, Ibukk yang akan membujuk ayah supaya kamu dipindahkan ke sekolah lain," tambahnya. Mereka memang masih marah dengan kejadian itu, meskipun yang dimarahi orang yang salah.
Shaniar cerita, saat aku pingsan, mereka pontang panting mencari bantuan. Untung saja ada pengunjung lain yang membantu dengan mobilnya. Dani-lah yang menemani Shaniar mendampingi ke rumah sakit. sesampainya di sana Shaniar menelepon orang tuaku. Mereka panik dan mengira Dani yang pernah mengantar pulang sampai ke depan pagar rumah adalah pacarku. Ayah memarahi habis-habisan di depan banyak orang sekaligus melarang kami bertemu lagi. Adam dan yang lain, termasuk Dani sendiri, melarang Shaniar memberitahu yang sebenarnya agar masalah tak semakin runyam. Kasihan Dani. Tapi ... tidak apa-apalah. Anggap saja melunasi perbuatannya dulu, pikirku.
"Ia, Buk. Janji," ucapku menyodorkan jari kelingking.
"Ck!" Ibu berdecak kesal sambil menautkan kelingking. "Ini sisanya kamu yang lipat aja. Ibuk mau susun baju yang ini ke kamarmu," ucapnya lagi.