Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #29

Gladi Resik

Pada siang yang terik, aula ramai oleh partisipan pensi yang akan melakukan gladi resik, tepatnya dua hari sebelum Hari-H. Waktu terasa lambat namun hari-hari kembali membaik. Aku sudah mulai terbiasa dengan efek hampa yang tersisa.

Untuk mengusir bosan sebelum acara dimulai, aku duduk di taman aula. Asyik membaca buku kumpulan quotes tokoh dunia kado ulang tahun dari Rio tahun lalu. Katanya agar aku termotivasi mengubah gaya hidup yang menurutnya sangat datar. Tak jarang di rumah dia memutar video-video motivator dengan suara kencang agar aku terinspirasi. Kepala dan kupingnya selalu jadi sasaran kalau tingkahnya sudah kelewat batas.

"Drewi," panggil Shaniar berlari-lari kecil mendekat. "Itu lihat si Lesung Pipimu." Dengan nafas tersenggal, dia menunjuk ke arah seorang pemeran tentara Belanda yang sedang berjalan menuju aula. Murid-murid perempuan mengikuti di belakang persis seperti di drama korea.

Dia memang bercahaya. Kharismanya seperti gelombang lautan dan ... kami sudah kembali asing. Ada sedikit harapan dia akan menoleh namun ternyata berlalu begitu saja. Langkah tegapnya bagai pisau tajam menusuk ulu hati. Di teras aula, dia berbincang sebentar dengan Agitha dan grup trio-nya lalu masuk ke dalam. Hantaman keras kembali menumbuk dada. Ya, dia memang sangat populer dan aku hanyalah salah satu dari sekian pengagumnya. Dua bulan lalu saat masih dimabuk cinta, berulang kali menghibur diri bahwa aku sebanding dengan Agitha Aristia. Namun setelah melihat betapa akrab mereka, aku mencerna lagi dengan sangat hati-hati dimana posisi titik koordinatku.

"Sabar my friend, mungkin dia memang bukan jodohmu. Mungkin," ucap Shaniar.

Jodoh? Sungguh kata itu terdengar lucu, tapi aku malah terisak. Apa perempuan SMA sudah pantas membahas tentang jodoh? Rasanya perjalananku masih panjang untuk sampai pada kesimpulan itu. Jodoh bukanlah kata yang tepat tapi 'pembelajaran'. Benar kata Shaniar dulu, aku masih terlalu muda untuk semua ini. Harusnya pun tak perlulah menangis lagi. Terlalu berlebihan. Terlalu cengeng. Toh, ini hanya percintaan masa remaja biasa. Bukan tentang jodoh seumur hidup.

Shaniar mengusap-usap lembut pundakku dan menemani sampai aku berhasil menenangkan diri. Kuseka mata serta seluruh wajah setelah Pak Sinurat memanggil seluruh siswa dengan toa merahnya. Kami pun melangkah masuk dengan hatiku yang setengah lega atas titik koordinat itu. Setengahnya lagi masih kacau, karena titik koordinat justru sangat jauh melesat dari yang kubayangkan.

...

Lihat selengkapnya