Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #30

Titan

"Harus gimana lagi sih biar kelihatan bagus? Kalau memang kemampuanku cuma segitu kenapa harus dipaksa terus? Ck!" ucapku pada pensil kuning yang kutemukan di teras Aula.

Di saat semua orang sudah pulang, aku tertahan lebih lama demi mendengar nasihat-nasihat Ibu Silaban. Kesalahan fatal di atas panggung jadi garis merah evaluasi internal. Aku pun latihan ekstra spesial berdua dengannya. Sungguh romantis sekali. Tatapannya di setiap gerakan dan dialog menjadi bumbu-bumbu romantis. Cut! Cut! Cut! Tidak terhitung jumlah ungkapan romantis cut! terlontar.

Panggilan sayangnya pun sudah berubah dari nak menjadi boru hasianku dengan nada emosi tertahan. Pembicaraan kami sangat 'intens' juga'romantis' selama latihan private, hingga akhirnya dia lelah sendiri begitu juga denganku. Latihan pun ditutup dengan doa, dimana ia memimpin dengan menyebut namaku berkali-kali. Entahlah aku harus berterima kasih atau tersinggung dengan sindiran level surga itu. 

"Tahun depan aku mau ikutan paduan suara ajalah. Kalau perlu, sekalian aja nggak ikut kegiatan apa-apa. Ih!" Trekk! Pensil kuning itu patah oleh tekanan rasa kesal. Kulempar dengan kencang ke tong sampah di dekat gerbang hingga menimbulkan bunyi berisik. Untung saja sekolah sudah sepi. Kalau tidak, pasti mata-mata itu akan tertuju padaku lagi.

"Andrewi ...."

Suara itu membuatku terkejut membalikkan badan. Si Lesung Pipi!

"Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa, Kak. Aman," ucapku menyengir salah tingkah.

"Sendirian aja? Shaniar mana?" tanyanya sambil berjalan duluan, agar aku mengikuti sama seperti dulu.

"Pulang duluan, Kak."

"Kalau gitu, aku yang antar kamu pulang, boleh?"

Lihat selengkapnya